Jakarta, TopBusiness – Angka-angka indikator makroekonomi China tersebut buruk. Itu akan menyebabkan penurunan permintaan minyak mentah dunia.
Data ekonomi China yang ditunjukkan dengan pertumbuhan output industri melemah ke posisi terendah. Output industri negara tirai bambu ini dari biro statistic nasional hanya tumbuh 5 persen di Mei dan berarti gagal memenuhi harapan yang ditargetkan mampu meraih 5,5 dan 5,4 persen.
Sentimen itu menyebabkan rontoknya bursa saham komoditas di New York Mercantile Exchange, dengan ditunjukkan dengan west texas intermediate ke level USD 51,93 per barel atau melemah USD 0,58 (1,10 persen) untuk pengiriman juli.
Di London, ICE Futures Exchange melalui harga patokan minyak brent pun terkoreksi USD 1,07 (1,73 persen) ke posisi USD 60,94 per barel untuk pengiriman Agustus depan.
Selanjutnya, investor tengah menunggu pertemuan antara OPEC dan Rusia soal keputusan apakah akan memperpanjang perjanjian pemangkasan produksi yang berakhir bulan ini.
Penulis : Agus H
