Jakarta, TopBusiness – PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDI) memastikan untuk melepas saham ke publik melalui skema penawaran perdana saham atau Initial public offering (IPO) hari ini.
Perseroan yang bergerak di bidang pengembangan aplikasi perdagangan melalui internet (e-commerce) serta distribusi produk digital ini melepas sebanyak-banyaknya 381.170.000 saham biasa atas nama atau setara 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Dalam proses IPO ini, perseroan bakal menawarkan harga di kisaran Rp396-Rp525 per saham. Dengan periode bookbuilding pada tanggal 17-24 Juni 2019 dan diharapkan proses pencatatan perdana pada tanggal 12 Juli 2019. HDI sendiri merupakan perusahaan fintech pertama yang bakal IPO.
Menurut Direktur Utama HDI, Hendra David, seluruh dana hasil IPO ini akan dialokasikan sekitar 65% untuk peningkatan modal kerja davestpay untuk akuisisi merchant berupa UMKM (warung) dan individu, pembelian persediaan barang dagang, uang muka persediaan barang dagang dan pembiayaan piutang usaha kepada pelanggan.
“Dan sebanyak 10% akan digunakan untuk meningkatkan IT serta pengembangan SDM. Sedang sisanya sebanyak 25% akan digunakan untuk pembelian bangunan operasional perusahaan,” papar Hendra di Jakarta, Selasa (18/6/2019).
Saat ini, kata dia, perseroan berlokasi di Makasar, Sulawesi Selatan dengan memasarkan distribusi produk digital, perdagangan online, e-commerce, dan teknologi. Karena berlokasi di timur, perseroan pun fokus pengembangan pasar di Indonesia bagian timur.
“Sekarang kami memiliki lebih dari 150 ribu jaringan agen yang tersebar di Indonesia dan memproses lebih dari 600 ribu transaksi dari ratusan produk per harinya. Target kami tahun ini jaringan agen bisa bertumbuh 100 persen menjadi 300 ribu,” tegasnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola konsumsi di era digital menjadi tantangan sekaligus potensi pasar yang menjanjikan. Terlebih setelah memasuki era revolusi industri 4.0.
Menurut data, perekonomian digital Indonesia akan tumbuh dari USD 7,8 miliar di 2015 menjadi 78,8 miliar di 2025 dengan pertumbuhan terbesar adalah sektor e-commerce dan teknologi finansial.
Kinerja perseroan juga cukup positif. Hingga 12 Juni 2019, pendapatan perseroan mencapai Rp4,1 triliun. Dengan profit marjin mencapai Rp8,3 miliar. “Meski laba masih kecil tapi naik 105% secara year on year (yoy). Laba kecil itu karena kita masih ada cash back dan subsidi,” pungkasnya.
(Tomy)
