Jakarta, TopBusiness—Dalam jangka menengah, Lippo Karawaci akan membangun 100.000 rumah. Investasi untuk itu mencapai Rp 100 triliun.
“Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah dengan menggandeng private equity yang telah memberikan komitmen investasi melalui pembelian rights, dan persetujuan untuk membeli saham Lippo Karawaci melalui rights issue,” kata CEO Lippo Karawaci, John Riady, di Jakarta hari ini.
“Lippo Karawaci mengapresiasi kebijakan pemerintah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), subsidi selisih bunga (SBS), serta keputusan untuk mengurangi pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada hunian dengan nilai di bawah Rp 30 miliar, yang menjadi kian penting agar kebutuhan hunian masyarakat luas dapat segera terpenuhi,” kata dia.
Kebijakan-kebijakan ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak masyarakat untuk membeli rumah pertama.
Dia mengatakan, kebijakan ini menjadi angin segar bagi industri properti, di mana target FLPP sendiri telah meningkat dari Rp 2,18 triliun di tahun 2018 menjadi Rp 5,2 triliun di 2019.
Dan besaran SBS di tahun 2019 mencapai Rp 3,45 triliun yang kemudian membuka banyak peluang baru, khususnya untuk pembiayaan dan penyediaan hunian yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sementara itu keputusan pemerintah untuk menaikan nilai batas PPnBM diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan sektor properti melalui peningkatan daya saing dan juga investasi.
John juga menjelaskan bahwa Lippo Karawaci kini punya land bank sekitar 8.000 hektar. Dari situ, sekitar 1.300 hektar sudah siap untuk dibangun.
“Adanya backlog kebutuhan rumah sebesar 7,6 juta unit dan pasokan land bank yang sangat memadai menjadi salah alasan kuat atas fokus usaha dari Lippo Karawaci,” kata dia.
(Adhito)
