TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Jurus Bangkitkan KS, Batasi Impor Baja China

Nurdian Akhmad
4 July 2019 | 10:39
rubrik: Business Info
Proyek Selesai, KRAS Optimistis Kinerja 2019 Membaik

FOTO: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Mantan Menkomaritim Rizal Ramli mengkritik naiknya impor baja dari Tiongkok di tengah perusahaan BUMN PT Krakatau Steel mengalami kerugian. Pemerintahan Jokowi yang fokus pada pembangunan infrastruktur ini seharusnya juga memberikan kontribusi pada peningkatan penjualan baja perusahaan pelat merah.

“Infrastruktur digenjot dalam empat setengah tahun terakhir, maka harusnya penjualan dan keuntungan Krakatau Steel naik, tetapi yang naik malah justru impor baja dari Tiongkok, yang harganya dumping dan aturan impornya dipermudah oleh menteri perdagangan,” kata Rizal dalam rilis yang diterima, di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Karena itu, Rizal yang juga ekonom senior itu merasa tidak aneh kalau PT Krakatau Steel merugi. Rizal mengaku pernah memberi usul kepada pemerintah Jokowi.

Usulan itu adalah pemerintahan Jokowi berani melaksanakan kebijakan antidumping dengan menerapkan bea masuk 25 persen terhadap baja dan turunannya pada tahun lalu. Rizal menegaskan jika kebijakan itu dilaksanakan, Krakatau Steel akan untung karena produksi baja dalam negeri naik.

Menurut Rizal, salah satu cara yang paling ampuh untuk bisa mengatasi kondisi ekonomi yang buruk adalah dengan mengurangi defisit current account dan impor.

Rizal mengkritisi sikap pemerintah Jokowi yang hanya berani dan fokus pada upaya pengurangan impor terhadap komoditi kecil. Menurutnya, pemerintah sebaiknya juga memfokuskan pada 10 komoditas impor yang besar, khususnya baja dari Tiongkok dan mobil dari Jepang.

Rizal menyebut, awal Oktober 2018 lalu, 67 persen baja berasal dari impor dan dijual murah di Indonesia. Tidak heran, kata Rizal, jika industri baja dalam negeri seperti Krakatau Steel merugi. “Restrukturisasi KS membuat utang sustainable tetapi tidak tingkatkan sales,” ujarnya.

BACA JUGA:   Kasus di Proyek Blaast Furnace, KRAS Pastikan Dukung Proses Hukum
Tags: Krakatau Steel
Previous Post

Rasio Elektrifikasi Sebesar 98,81 Persen

Next Post

Boeing Siapkan Rp 1,4 T untuk Korban 737 Max

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR