Jakarta, TopBusiness – Perusahaan teknik dan manufaktur alat berat dan konstruksi baja PT Arkha Jayanti Persada Tbk (ARKA) secara resmi telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah melepas saham ke publik melalui skema penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Perseroan kini menjadi emiten ke-29 di tahun ini atau perusahaan terbuka ke-647 dari total jumlah emiten yang tercatat di BEI.
Dalam perdagangan perdananya di BEI, saham ARKA terlihat langsung menyentuh titik auto-rejection atas (ARA) karena menguat hingga 50 persen lebih ke level Rp354 dari harga penawaran senilai Rp236 per saham.
Kenaikan harga saham ARKA di awal perdagangan tersebut ditopang oleh frekuensi transaksi sebanyak tiga kali dengan volume transaksi sejumlah 116 lot. Sehingga, nilai transaksi emiten tersebut di 2019 ini mencapai Rp4,11 juta untuk sepanjang perdagangan awal tadi.
Dalam proses IPO ini, perseroan menebar 500 juta lembar saham atau setara dengan 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO. Sehingga, dengan harga penawaran Rp236 per saham itu, maka ARKA mampu meraup dana dari pasar modal sebesar Rp118 miliar.
Manajemen ARKA pun menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Pada penawaran umum, saham ARKA mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 1,84 kali dari total saham yang ditawarkan atau sebesar 85,11 kali dari penawaran terpusat pada 1-5 Juli 2019.
Sebelum IPO, saham ARKA dimiliki oleh PT Arkha Tanto Prima (69,75 persen), PT JAF Asia Investment (30,17 persen) dan Dwi Hartanto (0,08 persen). Dan kini, sebanyak 25 persen dikantongi publik.
Rencananya, sebesar 70 persen dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja, berupa bahan baku dan bahan pembantu. Sedangkan, sisanya akan digunakan untuk membayar utang ke supplier.
Penulis: Tomy
