Jakarta, TopBusiness – Harga minyak mentah dunia kembali turun. Pasalnya, sejumlah fasilitas eksplor produksi beroperasi, setelah Topan Barry melanda kawasan tersebut.
Kendati begitu, pelemahan harga minyak sedikit terimbangi sebab data ekonomi China meredupkan peluang akan permintaan emas hitam tersebut. Melansir data China, produksi industri dan data ritel mengalahkan ekspektasi, angka keseluruhan menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulanan paling lambat di negara itu dalam beberapa dekade.
Minyak China tercatat naik ke rekor 13,07 juta barel per hari pada Juni (7,7 persen) dari setahun sebelumnya, menyusul dimulainya dua kilang besar baru. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi hanya 6,2 persen pada kuartal kedua 2019 sebagai dampak dari ketegangan perdagangan dengan Washington.
Di New York Mercantile, harga jenis minyak west intermediate texas terkoreksi 10 sen atau 0,2 persen ke posisi USD 59,48 per barel. Brent di ICE-London juga melemah 10 sen (0,2 persen) ke level USD 66,38 per barel.
Penulis : Agus H
