Jakarta, TopBusiness – Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Juli ini menyebut stabilitas sektor jasa keuangan pada semester I-2019 memang dalam kondisi terjaga. Hal tersebut masih sejalan dengan kinerja intermediasi sektor jasa keuangan yang positif dan profil risiko lembaga jasa keuangan yang terkendali.
Namun demikian, beberapa indikator terkini ekonomi global masih mengindikasikan perlambatan. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur dan pertumbuhan ekspor negara-negara ekonomi utama dunia terpantau masih melambat.
Menurut Ketua DK OJK, Wimboh Santoso, kondisi tersebut semakin meningkatkan ekspektasi pasar untuk kebijakan moneter global yang lebih akomodatif terhadap pertumbuhan.
Sehingga berdampak pada berkurangnya tekanan likuiditas di pasar keuangan global dan mendorong kembali masuknya arus modal ke pasar emerging markets.
“Dan sejalan dengan perkembangan global tersebut, pasar keuangan domestik mencatatkan kinerja yang positif di semester I-2019,” tegas Wimboh di Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Tercatat, untuk sektor pasar modal menurut data OJK, IHSG ditutup pada level 6.358,63 atau meningkat sebesar 2,65% di paruh pertama 2019, jika hingga 23 Juli 2019 ke posisi 6.403,81.
“Namun secara kuartalan di kuartal II-2019 ternyata IHSG turun 1,70% secara quartet to quartet (qtq),tapi hingga Juni 2019 naik 2,41% secara month to month (mtm). Dengan net buy investor nonresiden sebesar Rp68,80 triliun. Di kuartal II Rp 56,67 triliun dan di Juni 2019 secara mtm sebesar Rp 10,96 triliun,” papar dia.
Kondisi positif tersebut, kata dia, terlihat dari korporasi yang berhasil menghimpun dana sebesar Rp 96,25 triliun selama enam bulan pertama itu. Yakni di kuartal II sebanyak Rp 68,28 triliun (qtq), Juni 2019 senilai Rp 41,48 triliun (mtm).
“Dengan jumlah emiten baru sebanyak 29 di paruh pertama itu, dengan ada 18 (per 22 Juli 2019) yang rencana penawaran umum (IPO) di pipeline,” tutur dia.
Sejalan dengan itu juga terjadi penguatan di pasar Surat Berharga Negara (SBN), tercermin dari turunnya rata-rata yield SBN sebesar 57,64 bps. Dengan di kuartal II-2019 turun 19,67 bps (qtq) dan di Juni’19 turun 44,69 bps (mtm)
“Dengan investor nonresiden yang mencatatkan net buy sebesar Rp 95,50 triliun. Di Q2-nya sebanyak Rp 21,63 triliun (qtq) dan di Juni 2019 senilai Rp 39,19 triliun (mtm),” tegas Wimboh
Penulis : Tomy
