Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi bakal melanjutkan pelemahannya. Hal ini karena rupiah akan terdampak dari devaluasi mata uang China, Yuan.
Namun yang terjadi di sesi perdagangan pagi, rupiah sudah bertengger perkasa. Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di level Rp14.265 atau menguat 11 poin dari penutupan kemarin di posisi Rp14.276.
Kondisi ini berbeda dari hari kemarin dimana rupiah di zona merah. Di kurs spot rupiah terkoreksi 0,15% ke level Rp 14.277 per USD pada perdagangan kemarin.
Menurut analis pasar uang dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Reny Eka Putri, sejatinya rupiah masih berpotensi memerah.
“Sebab sentimen negatif yang menekan kurs rupiah di perdagangan kemarin masih akan mempengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini. Sehingga berpotensi melemah,” tutur dia di Jakarta, Rabu (7/8/2019).
Reny menambahkan, pelemahan rupiah akan sangat dipengaruhi aksi devaluasi yuan yang dilakukan China. Saat ini kurs yuan sendiri sudah menembus level CNY 7,02 per USD.
“Ini merupakan level terendah sepanjang 2019. Sehingga devaluasi yuan dikhawatirkan membuat perang dagang AS-China berkembang jadi currency war,” tuturnya.
Tapi, kata dia, ada beberapa mata uang negara lain yang terkoreksi lebih dalam, seperti won Korea dan rupee India. “Intervensi BI (Bank Indonesia) di pasar juga membuat pelemahan rupiah masih di bawah 1% pada hari Selasa kemarin,” ujar Reny.
Dengan kondisi tersebut, kendati rupiah dibuka menghijau, dia memprediksi rupiah hari ini akan bergerak di rentang Rp 14.250–Rp 14.340 per USD.
Penulis: Tomy
