TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Penanganan Kebakaran Hutan Dinilai Belum Optimal

Albarsyah
9 August 2019 | 17:16
rubrik: Ekonomi
Cegah Kebakaran Hutan, APP Investasi US$ 100 Juta

ilustrasi kebakaran hutan/foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Fenomena kebakaran hutan dan lahan kembali melanda sejumlah provinsi di Indonesia. Saat ini, 6 dari 18 provinsi yang rawan terjadi kebakaran telah ditetapkan berstatus siaga darurat, diantaranya Kalimantan Barat, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jambi.

BMKG sudah memprediksi bahwa musim kemarau di Indonesia akan berlangsung panjang dan potensi untuk terjadinya kebakaran sangat tinggi. Namun hal ini tidak diikuti dengan tindakan pencegahan oleh pemerintah.

Direktur Eksekutif Sawit Watch, Inda Fatinaware mengatakan bahwa Upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani kebakaran hutan dan lahan, belum optimal. Terbukti sejumlah provinsi langgangan kebakaran hutan dan lahan harus kembali ‘memanas’ di musim kemarau tahun ini.

“Padahal kondisi kekeringan ini telah diprediksi dan disampaikan oleh BMKG sejak dari beberapa waktu yang lalu,” ujar Inda dalam siaran persnya, Jumat (9/8/2019)..

Inda menjelaskan lebih lanjut, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 2015 lalu, masih menyisakan duka bagi bangsa ini. Akibat ulah pihak-pihak yang tak bertanggung jawab serta minimnya tindakan pencegahan, menyebabkan timbulnya sejumlah kerugian. Tak hanya kerugian materil melainkan kerugian moril yang juga harus ditanggung oleh masyarakat Indonesia.

“Fenomena ini harusnya menjadi pembelajaran berharga bagi bangsa Indonesia tetapi sangat disayangkan pemerintah gagal mencegah hal ini semakin meluas,” tegas Inda.

Inda menerangkan, berdasarkan data BMKG, sejumlah wilayah seperti Pulau Sumatera di bagian Selatan dan sebagian besar wilayah Kalimantan dan Selatan Pulau Sulawesi akan memasuki fase puncak kemarau pada Agustus ini.

Jika dihubungkan dengan prakiraan sifat hujan Indonesia 2019, maka wilayah-wilayah yang perlu diwaspadai karena memiliki sifat hujan di musim kemarau yang di bawah normal, yaitu di wilayah Kalimantan Tengah bagian Selatan, Sulawesi Tenggara (Konawe), Sulawesi Selatan (Wajo), Lampung (Lampung Tengah dan Tulang Bawang), Sumatera Selatan (OKU Timur), Jambi (Tanjabtim dan Kerinci), Riau (Rokan Hulu), Sumatera Utara (Padang Lawas dan Padang Lawas Utara), dan Aceh (Aceh Tengah).

BACA JUGA:   Pacu Industri Logistik, Bank Mandiri Gandeng Ditjen Bea Cukai Kembangkan Platform NLE

Sementara itu berdasarkan data NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS), berdasarkan dari pantauan satelit terra dan aqua MODIS (dengan tingkat kepercayaan >= 85%), terdapat 1.148 titik api tersebar di seluruh Indonesia selama periode 1 April – 6 Agustus 2019. Dari data ini dapat diihat bahwa terdapat lonjakan angka titik api yang ditemukan di bulan Juli, sebanyak 433 titik api.

Bahkan lebih parahya, dibulan Agustus yang hanya 6 hari saja, sudah ditemukan sebanyak 421 titik api, angka ini kami yakini akan terus bertambah atau bahkan menjadi bulan dengan jumlah titik api terbanyak, karena melihat puncak musim kemarau yang akan terjadi pada bulan Agustus ini.

Penulis: Albarsyah

Tags: Kebakaran hutan
Previous Post

Akhir Pekan, IHSG Meningkat Terbatas

Next Post

Pengelola Rantai Suplai Hulu Migas Tersertifikasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR