Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diperkirakan bisa mulai keluar dari zona merah. Hal ini karena masih terpengaruh pengumuman neraca dagang Indonesia yang bakal dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah sendiri dibuka di teritori negatif. Rupiah melemah 16 poin di sesi pembukaan pagi atau ke posisi Rp14.271 dari penutupan kemarin di level Rp14.245. Bahkan dalam satu jam kemudian masih memerah di posisi Rp14.305. Memerah 60 poin atau 0,42 persen.
Menurut analis pasar uang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Reny Eka Putri memprediksi, penguatan rupiah akan terjadi tergantung dari kondisi neraca dagang bulan lalu.
“Ini dengan catatan defisit neraca dagang Indonesia periode Juli ini tidak terlalu besar,” ungkap dia, di Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Selain sentimen dalam negeri, katalis ternyata dianggap lebih positif. Kondisi tersebut dipicu oleh isu perang dagang AS-China yang mulai mereda.
Keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunda bea impor 10% atas produk asal China seperti laptop, ponsel dan barang elektronik lainnya, telah membuat mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, tampil perkasa.
Rencana Trump itu untuk memberlakukan tarif masuk 10% untuk produk impor asal China itu yang nilainya mencapai US$ 300 miliar, semula akan mulai 1 September nanti, ternyata ditunda hingga 15 Desember mendatang.
Tercatat, perdagangan kemarin, kurs spot rupiah menguat 0,56% ke Rp 14.245 per USD. Sedang kurs tengah rupiah Bank Indonesia juga menaik 0,34% ke Rp 14.234 per USD.
Dengan kondisi demikian, Reny memprediksi cukup optimis, laju bisa bergerak di rentang Rp14.220-Rp14.290 per USD hingga penutupan nanti.
Penulis: Tomy
