Jakarta, TopBusiness – Bank Indonesia (BI) baru-baru ini kembali menurunkan suku bunga acuannya, BI 7 Day Repo Rate menjadi ke level 5,5 persen. Dalam dua bulan terakhir, BI telah menekan suku bunga acuan sebesar 0,5 persen atau 50 basis points (bps).
Untuk itu, bank-bank pun diminta agar segera menyesuaikan tingkat suku bunganya baik itu untuk pinjaman (kredit) maupun simpanan atau Dana Pihak Ketiga (DPK).
Namun begitu, menurut Direktur Tresuri dan Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo, pihak perseroan tak serta-merta untuk langsung menurunkan suku bunga itu. Pasalnya, BNI masih akan menghitung biaya dana (cost of found).
“Jadi penurunan suku bunga itu tentu akan antisipasi kemungkinan penurunan biaya dananya. Dan kemungkinan biaya dana itu pertama kali lebih ke produk tabungan dan juga yang selama ini special rate. Khususnya deposito,” tandas Rico di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/8/2019).
Memang ketimbang menurunkan suku bunga kredit, kata dia, pihaknya akan lebih dulu mengkoreksi suku bunga pinjaman. “Untuk yang special rate (deposito) sudah ada penurunan,” kata dia.
Selain itu, dijelaskan Rico, dampak penurunan biaya dana juga akan memengaruhi kondisi likuditas perbankan yang disebutnya bisa lebih longgar.
“Iya kemungkinan likuiditas dari bank juga semakin longgar. Untuk itu bagaimana dampaknya juga ke (penurunan) suku bunga kredit nantinya,” kata Rico.
Sejauh ini, perseroan memang agresif dalam menyuarakan kredit. Hingga paruh pertama tahun 2019, BBNI mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid sebesar 20% year on year (YOY) yaitu dari Rp 457.81 triliun pada Semester I 2018 menjadi Rp 549,23 triliun pada Semester | 2019.
“Realisasi kredit tersebut menunjukkan fungsi intermediasi yang dijalankan BNI berjalan secara optimal dan seiring dengan upaya pemerintah yang terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global,” katanya.
Penyaluran Kredit BNI yang solid itu, disebutnya, ditopang oleh kemampuan BNI untuk menjaga likuiditas di tengah kondisi pasar keuangan yang ketat, di mana Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13% secara YOY.
Dari Rp 526,48 triliun pada Semester I-2018 menjadi Rp 595,07 triliun pada Semester I 2019. BNI juga mampu menjaga rasio dana murah yang ditunjukkan dari komposisi CASA yang mencapai 64,696 dari total DPK.
Pencapaian BNI lain yang juga sangat baik, katanya, adalah pertumbuhan Non Interest Income (NIM) atau fee based income. Di mana pada Semester I 2019 tumbuh 11,6% yoy.
Sebesar 96,5% NIM BNI ditopang oleh recurring fee yang mencatatkan pertumbuhan 16,6% YOY, menjadi Rp 5,2 triliun. “Pertumbuhan NIM ini berkontribusi sebesar 21,6% terhadap total operating income BNI pada Semester I tahun 2019 itu,” pungkasnya.
Tomy
Tags: bni
