Jakarta, TopBusiness – Anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang jual-beli minyak bumi, PT Elnusa Tbk (ELSA) sudah memastikan diri akan menggarap kilang minyak di benua Afrika, tepatnya di Madagascar.
Namun begitu, pihak ELSA masih kekeringan likuiditas dan butuh dana besar. Makanya, kini perseroan tengah menanti pembiayaan dari Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Jika pendanaan itu cair, perusahaan akan segera memulai proyek di negara tersebut.
Hal ini seperti disebutkan Direktur Utama Elnusa, Elizar Parlindungan Hasibuan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, ditulis Kamis (29/8/2019).
Menurut dia, penggarapan kilang di Afrika memang tak mudah. Mesti penuh kehati-hatian. Makanya risiko yang ada perlu diantisipasi jauih-jauh hari. “Perlu ekstra hati-hati memahami risiko yang ada dan mitigasinya. Kami masih kerja sama dengan lembaga pendanaan dengan EximBank untuk mendapatkan pendanaan, tapi tingkat risiko minimal. Ini peluang besar dan tim kami sedang coba,” jelas dia.
Proyek di Afrika tersebut didapat Elnusa dari multicompany asal Eropa dan Asia sebagai pengelola kilang tersebut. Nilainya cukup besar, karena jumlah sumur minyak yang akan dibor cukup banyak.
“Makanya, kita butuh investasi yang besar untuk membangun kilang itu. Selain di Afrika, kami juga tengah tunggu proyek di Australia dan Vietnam,” kata Direktur Keuangan Elnusa Hery Setiawan.
Untuk proyek di Negeri Kanguru itu, lanjut dia, sudah sampai ke tahan lelang tunggar, bahkan harganya sudah dinegosiasai. “Semoga (angkanya) bisa masuk ke angka yang cocok, sehingga punya foot print di Australia,” jelas dia.
Selain menggarap kilang, kata dia, perseroan juga tengah merencanakan pembangunan depot bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji (LPG) melalui penugasan dari induknya, Pertamina. Masih ada beberapa daerah yang membutuhkan fasilitas depo tersebut, seperti daerah Indonesia Timur, dan Sumatera bagian tengah. Untuk itu perseroan pun butuh investasi besar.
Selain mengandalkan pembiayaan bank, ELSA juga berencana untuk menerbitkan surat utang global (global bond) untuk fokus mengembangkan bisnis depo ini. Apalagi perusahaan juga menargetkan pendapatan dari bisnis tersebut mencapai Rp 4 triliun pada tahun ini. Sedangkan, target pendapatan konsolidasi sebesar Rp 7,5 triliun.
“Karena bisnis depo itu return-nya lebih bagus dibandingkan trading (jual-beli minyak),” imbuh dia.
Tomy
