Jakarta, TopBusiness – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, K Suhariyanto, mengatakan bahwa upaya menggenjot ekspor kini memang punya kendala luar biasa.
“Itu antara lain karena adanya perang dagang, dan fluktuasi harga komoditas,” kata dia di Jakarta hari ini, Senin (16/9/2019) dalam paparan data ekspor-impor terbaru, kepada sejumlah wartawan.
Kendala lain bagi upaya menggenjot ekspor, dia mengatakan, adalah perlambatan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor. Itu seperti Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
Dikatakannya, harga beberapa komoditas nonmigas yang diekspor RI, ada yang naik atau juga turun. Yang harganya naik misalnya nikel, minyak sawit, emas, dan kernel. Sedangkan yang harganya turun adalah karet, batu bara, seng, dan lain-lain.
Lebih lanjut, Suhariyanto mengatakan bahwa nilai ekspor RI di Agustus 2019, di USD 14,28 miliar.
Adapun nilai impor di waktu yang sama, USD 14,20 miliar. “Maka, neraca perdagangan di Agustus 2019, surplus USD 0,08 miliar,” ucap dia.
Surplus tersebut lebih disebabkan turunnya nilai impor secara signifikan. Nilai ekspor pun turun, tetapi dengan intensitas yang lebih rendah.
Untuk periode Januari-Agustus 2019, neraca perdagangan RI tercatat defisit. Nilai defisit itu di USD 1,18 miliar. “Hal ini perlu diperbaiki, sudah tentu. Walau memang bukan hal yang mudah,” kata dia.
(Adhito)
