Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diproyeksi masih akan alami pelemahan seperti awal pekan kemarin. Hal ini lebih dipicu oleh sentiment global yang masih tak menguntungkan laju mata uang NKRI itu.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah sejatinya dibuka menguat tipis 5 poin atau 0,04% di level Rp14.080 per USD dari penutupan kemarin di posisi Rp14.085 per USD. Namun dalam 1,5 jam pertama laju rupiah kembali melemah yakni berbalik ke tangga Rp14.094 atau terdepresiasi 9 poin atau 0,06%.
Menurut ekonom Bank Permata, Josua Pardede, kondisi terbaru antara AS dan China menimbulkan ketidakpastian baru. Hal itu telah memicu meningkatnya permintaan asset safe haven, seperti USD. “Sehingga aset berisiko seperti rupiah pun ditinggalkan yang membuat kembali rupiah memerah,” tutur dia di Jakarta, Selasa (14/9/2019).
Sebelumnya, pasar kembali gaduh gara-garanya dipicu oleh situasi perang dagang saat ini. Pasalnya, delegasi China itu telah membatalkan kunjungan ke wilayah pertanian AS terkait negosiasi perang dagang itu.
Sehingga, rupiah pun didominasi oleh faktor eksternal, terutama dari situasi perang dagang tersebut. Ditambah lagi, katalis negatif juga datang dari memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Josua memperkirakan rupiah masih akan mengalami pelemahan hari ini. Apalagi dari dalam negeri juga, potensi berlanjutnya demonstrasi yang berhubungan dengan beberapa revisi undang-undang bisa menambah sentimen negatif.
Pada Senin (23/9) kemarin, mata uang Merah Putih itu berakhir melemah 0,21% ke level Rp 14.085 per dolar AS. Dan hari ini, Josua memproyeksi rupiah akan melemah terbatas dengan kisaran pergerakan Rp 14.025–Rp 14.150 per USD.
Penulis: Tomy
