Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) dalam perdagangan hari ini bisa kembali menunjukkan kekuatannya, meski menguat tipis. Padahal dalam beberapa hari terakhir rupiah keok di tangan USD.
Kondisi itu disebut banyak analis karena dipicu oleh faktor aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang hingga kini masih terjadi. Namun begitu, di mata ekonom BCA, David Sumual justru faktor utama rupiah di teritori negatif karena faktor luar negeri yang memang membuat USD perkasa.
“Faktor global yaitu nilai tukar dolar AS yang terus menguat membuat rupiah keok. Dan USD terus bullish terjadi beberapa hari terakhir ini,” ujar David di Jakarta, Rabu (2/10/2019).
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di level Rp 12.212 per USD atau melemah tipis 3 poin dari penutupan kemarin di tangga Rp 12.215 per USD. Namun dalam dua jam terakhir,mata uang Merah Putih itu terlihat mulai berotot ke posisi Rp14.199 per USD atau menguat 16 poin alias 0,11 persen.
David menambahkan, penguatan USD disebabkan kondisi politik terakhir perang dagang dan data-data dari AS yang menopang. Seperti rencana pemblokiran pemerintah AS terhadap investasi AS di China.
“Dan pelemahan terhadap rupiah yang terjadi pada hari ini masih bersifat konsolidasi. Rupiah bisa bangkit lagi dalam waktu dekat,” tuturnya.
Hal ini didukung dari data inflasi yang baru dirilisi kemarin. “Sejauh ini pelemahan rupiah tak akan bertahan lama apalagi pengumuman inflasi kemarin tampaknya bagus (terjadi deflasi -0,27%),” kata David.
Dengan kondisi demikian, David optimistis mata uang garuda padahari ini bisa menguat tipis di rentang Rp 14.180/USD hingga Rp 14.240 per USD.
Tomy
