Jakarta, TopBusiness – Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam beberapa hari lagi akan dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI. Di periode kedua pemerintahan Jokowi ini tentu banyak harapan baru yang digantungkan ke pemerintahan baru nanti, termasuk dari pelaku pasar modal.
Dalam hal ini, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menggantungkan asa agar di pemerintahan nanti banyak perusahaan BUMN yang melepas sahamnya menjadi perusahaan terbuka.
Hal ini seperti ditegaskan oleh Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna ketika ditemui wartawan di gedung BEI, Jakarta, Selasa (15/10/2019).
Menurut Nyoman, selain pemerintahan nanti menciptakan kondisi perpolitikan yang kondusif, juga diharapkan dapat menciptakan perekonomian yang stabil. Sehingga dapat berimbas pada rasa kepercayaan pelaku pasar terhadap pasar modal tanah air.
Sehingga imbasnya kondisi pasar modal juga kian positif ke depannya dan menarik bagi semua perusahaan yang mau melantai di Bursa, termasuk BUMN yang bisa melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
“Harapan kita tentunya, keberlanjutan dari perekonomiam kondusif saat ini bisa terus berlanjut. Dan harapan kita lainnya, perusahaan BUMN yang privat company itu bisa memanfaatkan yang namanya pasar modal indonesia,” ujarnya.
Menurut Nyoman, dengan bergabungnya perusahaan plat merah menjadi emiten bisa memanfaatkan sumber dana alternatif yang lebih baik dibandingkan dari perbankan. Sebab, dalam mendapatkan dana jangka panjang, pasar modal dinilai lebih cocok dibandingkan dana pinjaman bank yang relatif singkat.
“Jadi jika ada diversifikasi yang namanya dana bukan hanya dari perbankan kita sudah ada pasar modal,” imbuhnya.
Selain itu, Nyoman juga mengajak seluruh perusahaan nasional yang masih belum melepas sahamnya ke publik, agar memanfaatkan pasar modal untuk tumbuh besar seiring dengan potensi dana segar yang dapat diraih melalui IPO.
Karena melalui dana segar yang dihimpun dari masyarakat itu dapat mendukung pengembangan bisnis suatu perusahaan.
“Jangan ragu masuk bursa. Jangan ragu, Anda itu masih kecil, justru jadilah besar (dengan berinvestasi di pasar modal). Jangan menunggu besar baru masuk pasar modal. Asal perusahaan punya bisnis model yang menarik, prospek yang menghasilkan peluang, itu yang kita harapkan (untuk IPO),” tutur dia.
Sekadar informasi, hingga saat ini baru ada 20 BUMN yang berstatus perusahaan terbuka. Terakhir kali BUMN mencatatkan sahamnya di BEI adalah PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) yang listing pada 28 Juni 2013 silam.
Setelah itu, hanya ada anak-anak usaha BUMN yang dilepas sahamnya ke publik. Tahun lalu saja ada tiga anak perusahaan pelat merah yang IPO yakni PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero).
Kemudian PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), anak usaha PT Pelindo II (Persero) dan PT Phapros Tbk (PEHA) yang semula sebagai anak usaha PT RNI (Persero) dan kini menjadi anak usaha PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF).
Penulis: Tomy
