Jakarta, TopBusiness – Perusahaan yang bergerak dalam usaha pengolahan kayu dan studio perfilman, PT Warna Bhuana Investama (WBI) mencari pendanaan pihak ketiga melalui skema penerbitan Surat Berharga Investasi Jangka Pendek (SBIJP).
Untuk penerbitan surat utang ini, pihaknya menargekan bisa mengantongi dana segar sebanyak-banyaknya mencapai Rp 500 miliar. Dengan dengan tingkat bunga yang ditawarkan mencapai 11 persen per 360 hari.
Menurut CEO Warna Bhuana Investama, Setyo Wisnu Broto, langkah perseroan ini untuk memenuhi permintaan pasokan ekspor yang selama ini sudah dikirim ke Perancis, Denmark, Jerman, Swedia, Timur tengah, Taiwan, Singapura dan Jepang
“Penerbitan SBI-JP ini menggandeng Ascort Asia Group selaku konsultan independen dalam penerbitan dan pendistribusian SBI ke calon investor ritel,” ucapnya di Jakarta, Jumat (18/10/2019).
Selain itu, kata Setyo, Warna Bhuana Investama juga bekerjasama dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) selaku Agen Fasilitas, Agen Pemegang Jaminan dan Agen Pembayaran SBI-JP.
“Kami yakin ekspansi melalui peningkatan ekspor produk pengolahan kayu dapat membantu menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia,” ujar Setyo.
Sejauh ini, kata dia, yang menggelar dua lini bisnis itu melalui dua anak usaha yaitu PT Rimba Sentosa Persada (RSP) di bidang furnitur dan PT Mitra Andalas Visual (MAV) di bidang perfilman.
Nantinya, dari dana ini, menurut Setyo, sebesar 65 persen akan digunakan untuk modal kerja, sebesar 25 persen akan dimanfaatkan untuk investasi pengadaan mesin berteknologi digital. “Sisanya sebesar 10 persen akan digunakan untuk membayar utang,” ucap Setyo.
Setyo menyebutkan, RSP memproduksi furnitur berbahan dasar kayu dan bangunan material kayu yang memiliki pabrik furnitur berkapasitas 500 m3 per bulan dan pabrik bahan material berkapasitas 5.000 m3 per bulan di Jawa Tengah.
Sementara itu, MAV bergerak di bisnis studio perfilman yang berdiri sejak 2007 dengan proyek pertamanya film dokumenter seperti Indonesia Exploride dan TOQUE 12.
“Saat ini, studio perfilman MAV menjadi integrated production house pertama yang mengembangkan produk konten film panjang dan film serial berformat 4K,” imbuhnya.
Lebih lanjut Setyo mengungkapkan, dalam menghadapi permintaan pasokan ekspor yang terus meningkat, Warna Bhuana Investama berencana melakukan ekspansi usaha dengan menambah produksi pengolahan kayu.
“Pada bisnis perfilman, kami akan terus mengembangkan konten digital kreatif, yaitu 360⁰ Sinema 45,” katanya.
Penulis: Tomy
