Jakarta, TopBusiness – Presiden Joko Widodo telah meminta secara langsung ke Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi agar pengembangan infrastruktur dan sektor transportasi berdampak pada percepatan konektivitas guna mendukung industri, pariwisata dan logistik.
Pernyataan Presiden itu disampaikan langsung ketika mengumumkan nama-nama Menteri dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019 – 2024 di Istana Negara, pada Rabu (23/10/2019) lalu.
Keinginan Presiden itu pun kembali ditegaskan Menhub dengan menyebut Presiden berharap pengembangan dan pembangunan infrastruktur transportasi dilakukan berdasarkan prioritas, harus fokus dan terarah.
“Presiden mengarahkan agar memperluas konektivitas. Harus dipilih yang prioritas, infrastruktur apa yang dibangun dan lokasi di mana, lalu fokus,” ujar Menhub kala itu.
Untuk mewujudkan hal itu, salah satu BUMN di sektor kebandaraan, PT Angkasa Pura II (Persero) siap mendukung komitmen pemerintah dengan melakukan pengembangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang merupakan pintu gerbang utama di Indonesia, sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Isu penting lanjutan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah selesainya Runway ke-3 adalah mengenai kapasitas terminal penumpang. Oleh karena itu AP II tengah mempersiapkan pembangunan Terminal 4 di Bandara Soetta itu.
Terminal 4 juga merupakan proyek yang dampaknya cukup vital bagi pengembangan konektivitas transportasi udara nasional dan daya saing Indonesia.
President Director AP II Muhammad Awaluddin mengatakan desain Terminal 4 sudah ditetapkan saat ini dan pembangunan akan dilakukan dalam 3 tahun atau dimulai pada 2021 hingga 2024.
“Nantinya pada 2024, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan Terminal 1, 2, 3, dan 4 akan memiliki kapasitas mencapai 100 juta penumpang per tahun,” kata dia di Jakarta, Jumat (25/10/2019).
Melalui Terminal 4, AP II akan mendorong lebih banyak konektivitas penerbangan dari dan ke Indonesia.
“Target kami adalah meningkatkan rute internasional di Soekarno-Hatta sehingga mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke Jakarta atau melanjutkan penerbangan ke destinasi lain di Indonesia. Kami ingin mewujudkan passenger connectivity dan tourism connectivity,” jelas dia.
Tourism connectivity, jelas Muhammad Awaluddin, juga terwujud dengan adanya low cost carrier terminal (LCCT) di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Bandara AP II lainnya juga siap mendukung pariwisata Indonesia seperti misalnya Bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjung Pinang, Bandara Silangit di dekat kawasan Danau Toba, Bandara HAS Hanandjoeddin di Belitung, serta Bandara Banyuwangi.
“Bandara-bandara di bawah pengelolaan AP II akan berupaya meningkatkan kinerja dan memperluas konektivitas penerbangan agar target nasional 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2020 bisa terwujud,” tutur Awaluddin.
Angkasa Pura II saat ini mengelola 19 bandara dengan total kapasitas terminal di seluruh bandara itu dapat menampung 86,15 juta penumpang per tahun.
Saat ini AP II telah memiliki rencana pengembangan dan pembangunan terminal baru di sejumlah bandara, sehingga nantinya total kapasitas terminal dapat mencapai sekitar 178 juta penumpang per tahun.
Adapun Menhub juga menuturkan bahwa Presiden Joko Widodo ingin agar sektor transportasi juga dapat mendukung kelancaran arus logistik.
Terkait dengan hal tersebut, AP II akan memastikan terwujudnya cargo connectivity melalui pengembangan cargo village di Soekarno-Hatta.
Kawasan cargo village di Soekarno-Hatta ini diproyeksikan akan menangani sekitar 1,5 juta ton kargo setiap tahunnya.
“Cargo village Soekarno-Hatta akan menjadi pusat pengelolaan kargo udara terbesar dan terintegrasi pertama di Indonesia, salah satunya didorong tumbuhnya bisnis e-commerce di dalam negeri,” ujarnya.
Adapun pembangunan kawasan cargo village Soekarno-Hatta ditargetkan tuntas pada 2020.
Tomy Asyari
