Jakarta, TopBusiness – Emiten holding BUMN tambang, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengaku mengalami kinerja yang mulai berat di tengah anjloknya harga batubara saat ini.
Perusahaan tambang batubara ini tercatat masih mampu mengalami pertumbuhan penjualan hingga Rp16,25 triliun sampai akhir September 2019. Namun begitu, meski naik hanya tumbuh tipis 1,36% ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain laju penjualan yang seret, selama sembilan bulan pertama di tahun ini, beban pokok pendapatan perseroan juga naik 12,59% dari Rp9,36 triliun per kuartal III-2018 menjadi Rp10,54 triliun per kuartal III-2019.
Kondisi itu membuat laba usaha PTBA juga menyusut dari Rp5,17 triliun menjadi Rp4,08 triliun secara year on year (yoy).
“Serta laba periode berjalan juga turun tipis dari Rp3,99 triliun per kuartal III-2018 menjadi Rp3,12 triliun per kuartal III-2019,” papar laporan resmi PTB seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (29/10/2019).
Lebih jauh disebutkan, PTBA juga meraih laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,1 triliun per kuartal III-2019.
Nilai tersebut pun turun 21,12% secara tahunan dari raihan Rp3,93 triliun per September 2018 lalu.
Dan juga sejalan dengan penurunan laba bersih, laba per saham PTBA pun tak luput dari penurunan, dari sebelumnya Rp373 per saham menjadi Rp280 per saham hingga 30 September 2019 lalu itu.
Seperti diketahui, belum lama ini Kementerian ESDM menetapkan harga batubara acuan (HBA) pada periode September 2019 senilai US$ 65,79 per ton, atau turun US$ 6,88 alias 9,47% dari harga bulan lalu yang senilai US$ 72,67 per ton. HBA September itu tercatat yang terendah sejak Oktober 2019 senilai US$ 69,07 per ton.
Laporan tersebut kembali menegaskan, untuk penjualan tersebut bersumber dari penjualan batubara Rp15,95 triliun dan pendapatan dari aktivitas lainnya senilai Rp301,18 miliar.
Secara detail, penjualan batubara domestik berkontribusi sebesar 56%, penjualan batu bara ekspor 42% dan aktivitas lainnya 2%.
Aktivitas lain yang dimaksud tersebut mencakup penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit, dan jasa sewa.
Penulis: Tomy
