Jakarta, TopBusiness – Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) selama Oktober 2019 mengalami inflasi sebesar 0,02 persen secara bulanan atau month to month (mtm) dan 3,13 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang terjadi deflasi sebesar 0,27 persen (mtm) dan 3,39 persen (yoy).
“Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” ujar Kepala BPS Suhariyanto saat memaparkan data inflasi di Gedung BPS, Jakarta, Jumat (1/11/2019).
Suhariyanto mengatakan, dari 82 kota yang dipantau, sebanyak 43 kota yang mengalami inflasi dan 39 kota yang mengalami deflasi. Adapun inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,22 persen, dan terendah terjadi di Pematangsiantar, Tual, dan Ternate sebesar 0,01 persen.
Sementara kota yang mengalami deflasi tertinggi berada di Balikpapan sebesar 0,69 persen dan terendah berada di Palopo sebesar 0,01 persen.
“Inflasi selama Oktober 2019 tercatat inflasi sebesar 0,02 persen dan tahunannya 3,13 persen. Inflasi terkendali, tinggal dua bulan lagi saya yakin target inflasi tercapai,” ujar Suhariyanto
Inflasi tersebut lebih disebabkan oleh kenaikan kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, yang mengalami inflasi 0,45 persen dan andilnya 0,08 persen. Komoditas yang menyumbang inflasi pada kelompok ini adalah harga nasi dan lauk pauk, rokok kretek filter, dan rokok kretek putih yang masing-masing naik 0,05 persen.
Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,3 persen dan andil terhadap inflasi 0,01 persen. Selanjutnya kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar yang mengalami inflasi 0,08 persen dan sumbangannya ke inflasi umum 0,02 persen.
Namun demikian, Suhariyanto menyebut, tipisnya inflasi selama bulan lalu lantaran kelompok pangan dan transportasi yang mengalami deflasi.
Adapun kelompok bahan makanan mengalami deflasi 0,41 persen dan andilnya terhadap deflasi sebesar 0,08 persen. Komoditas cabai merah mengalami deflasi 0,09 persen, telur ayam ras deflasi 0,03 persen, dan cabai rawit deflasi 0,02 persen.
“Penurunan harga cabai merah ini menyumbang deflasi 0,09 persen, karena pasokannya melimpah ya panen raya. Cabai merah turun harganya di 56 kota,” katanya.
Sementara komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga atau inflasi adalah daging ayam ras, yang memiliki andil ke inflasi 0,05 persen, bawang merah memiliki andil inflasi 0,02 persen.
Sementara untuk kelompok transportasi, mencatatkan deflasi 0,08 persen dan andilnya ke inflasi -0,02 persen. Penyebabnya adalah penurunan tarif angkutan udara, yang memiliki andil deflasi 0,02 persen.
Secara keseluruhan, inflasi selama bulan lalu lebih disumbang oleh inflasi inti, yang mencatatkan inflasi sebesar 0,17 persen dan harga yang diatur pemerintah mencatatkan inflasi 0,03 persen. Sementara harga pangan bergejolak mengalami deflasi 0,47 persen.
