Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini atau di akhir tahun ini diproyeksi bisa terapresiasi. Hal ini lantaran masih adanya sentimen positif di pasar yang bisa mengkatrol laju rupiah.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di level Rp13.948 per USD atau menguat tipis 4 poin alias 0,03% dari penutupan sebelumnya di tangga Rp13.952 per USD pada akhir pekan lalu. Dan hingga 1,5 jam pertama laju mata uang NKRI itu masih berfluktuasi menguat di posisi Rp13,943,5 per USD atau terapresiasi 8,5 poin alias 0,06%.
Menurut Kepala Riset PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, kondisi penguatan nilai tukar rupiah itu disebabkan oleh sentimen positif yang membayangi pergerakan aset berisiko menjelang akhir tahun ini.
“Sebab saat ini, sentimen positif terhadap aset berisiko seperti yang terlihat di bursa saham sedang menguat jelang akhir tahun ini. Dan kelihatannya bisa menopang penguatan rupiah terhadap dolar AS,” tandas dia di Jakarta, Senin (30/12/2019).
Kondisi penguatan aset berisiko tersebut, kata dia, kemungkinan terjadi akibat potensi pelonggaran moneter lanjutan atau suku bunga acuan rendah di tahun 2020 nanti.
“Dengan kondisi demikian, kemungkinan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di rentang Rp13.900 peer USD hingga Rp13.970 per USD,” katanya.
Pergerakan mata uang di beberapa negara Asia sendiri pagi hari ini tercatat mayoritas mengalami penguatan terhadap USD. Untuk won Korea terpantau menguat 0,14 persen, dan baht Thailand serta dolar Singapura sama-sama menguat tipis 0,01 persen. Pelemahan hanya terjadi pada dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, sementara yen Jepang berada di level stagnan.
Sementaradi negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,09 persen, dolar Kanada menguat 0,03 persen. Diikuti euro dan dolar Australia yang sama-sama menguat 0,04 persen terhadap dolar AS.
Sumber foto: Istimewa
