Jakarta, TopBusiness–-Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan di awal pekan ini masih melanjutkan tren penguatannya. Terlihat rupiah terus menguat sejak sesi pembukaan pagi ini. Hal ini salah satunya dipicu masalah geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah di buka di level Rp13.744 atau menguat 27,5 poin dari penutupan akhir pekan lalu di tangga Rp13.771,5. Bahkan sejak pembukaan terus di jalur hijau hingga pukul 9.30 WIB masih di teritori positif di posisi Rp13.705 atau terapresiasi 66,5 poin alias 0,48%.
Disebut oleh analis pasar uang dari Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan, kondisi stamina rupiah pada hari ini lebih disuntik oleh sentimen yang berasal dari geopolitik di Timur Tengah yakni terjadinya perang antara AS dan Iran yang berangsur mulai kondusif atau mereda.
“Kondisi tersebut ternyata membuat pasar global lebih tenang. Dan hal ini telah berdampak positif terhadap laju rupiah,” terang dia di Jakarta, Senin (13/1/2020).
Seperti diketahui, pasca-penyerangan Iran ke pangkalan militer AS di Irak pada Selasa (7/1) hingga Rabu (8/1) lalu, Negeri Paman Sam secara mengejutkan tidak membalas secara militer justru melainkan melakukan balasan dengan penerapan sanksi ekonomi.
“Dan selama AS serta Iran tidak memberikan sentimen terbaru terkait perang, rupiah masih memiliki potensi menguat terhadap dolar AS,” tandas Ahmad.
Selain katalis positif dari geopolitik itu, masalah perang dagang AS-China yang telah melahirkan kesepakatan ini bisa menjadi daya injeksi baru bagi mata uang Merah Putih ini.
Berdasar laporan dari Reuters, Wakil Perdana Menteri China Lie He telah berkomunikasi dengan AS perihal kesepakatan perdagangan. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut, kesepakatan dagang fase pertama ini akan ditandatangani pada 15 Januari mendatang.
Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf menambahkan, selain sentimen positif dari geopolitik AS dan Iran, penguatan rupiah mendapat dorongan dari kesepakatan dagang fase I antara AS dan China.
Dengan segala kondisi yang melingkupi rupiah tersebut, Ahmad pun memproyeksi pergerakan mata uang Garuda tersebut akan di rentang Rp 13.680 hingga Rp 13.890 per USD.
Sumber Ilustrasi: Istimewa
