AMOR Jadi MI Pertama Melantai di BEI

Penulis Tomy Asyari

Jakarta, TopBusiness – Perusahaan yang menjadi pengelola dana investasi atau Manajer Investasi (MI), PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR) secara resmi telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan begitu, AMOR sendiri menjadi MI pertama yang kini berstatus Terbuka.

Perseroan melantai di Bursa melalui skema penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). AMOR sendiri melepas sahamnya ke publik sebanyak 111,11 juta saham baru atau sekitar 10 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Perseroan menunjuk Mandiri Sekuritas sebagai sole underwriter.

Pada saat listing perdana, saham Ashmore langsung terkena auto rejection oleh Jakarta Automated Trading System (JATS) karena kenaikan harga sahamnya melebihi ketentuan persentase tertinggi harian khusus saham IPO sebesar 50 persen. Terlihat, saham AMOR ini melesat 50 persen atau 950 poin ke level Rp2.850 per saham. Saham AMOR ditransaksikan sebanyak 101 kali dengan volume 2.308 lot dan menghasilkan nilai transaksi Rp635,04 juta.

Presiden Direktur AMOR, Ronaldus Gandahusada mengatakan aksi pencatatan saham ini merupakan batu loncatan (milestone) perusahaan untuk lebih berkembang. Dana segar dari aksi ini akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur teknologi informasi (TI) dan memperkuat sumber pendanaan untuk membentuk produk baru.

“Langkah perseroan untuk IPO ini merupakan strategi untuk meningkatkan kapasitas pendanaan perseroan dan tata kelola yang lebih baik. Perseroan juga memiliki rencana untuk memperluas jangkauan distribusi dengan membangun infrastruktur dan produk strategis menggunakan dana segar IPO ini sebanyak Rp211 miliar,” tutur dia di gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Diamenjelaskan, sejak terbentuknya perusahaan pada 2012 lalu dana kelolaan perusahaan tercatat terus bertambah. Dari semula sekitar Rp500 miliar menjadi di atas Rp30 triliun pada akhir 2019.

“Kami juga mempunyai 18 produk reksa dana, sembilan kontrak pengelolaan dana, dan satu ETF. Semua kami kelelola dengan filosofi investment aktif,” ucap dia.

Industri asset manajemen di Indonesia, kata dia, masih terbilang baru dan masih bertumbuh di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun begitu, penetrasi industri asset manajemen yang terlihat dari rasio dana kelolaan terhadap PDB masih sangat rendah. Makanya perseroan pun melihat kesempatan untuk bertumbuh di atas pertumbuhan ekonomi dan industri berdasarkan pertumbuhan yang telah dicapai perseroan di tiga tahun terakhir ini.

“Dari Juni 2016 sampai Juni 2019 dana kelolaan perseroan telah bertumbuh 33% setiap tahunnya dibandingkan dengan pertumbuhan industri sebesar 18%,” kata dia.

Pada IPO ini, perseroan mengalokasikan sebesar 1,19% dari saham yang ditawarkan saat IPO untuk program employee stocl allocation (ESA) yang sebanyak 1.322.900 saham, dengan harga pelaksanaan ESA yang sama dengan harga penawaran.

Setelah IPO ini, struktur kepemilikan saham perseroan dimiliki oleh Ashmore Investment Management Limited 60,0%, PT Adikarsa Sarana sebesar 12,9%, manajemen perseroan 17,1%, dan masyarakat sebesar 10,0%.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar