Jakarta, TopBusiness – Sepanjang 2019, Kementerian Perindustrian mencatat ekspor produk industri pengolahan menembus hingga USD 126,57 miliar atau menyumbang 75,5 persen terhadap total ekspor Indonesia yang menyentuh USD 167,53 miliar.
“Pemerintah memang sedang fokus menggenjot nilai ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan kita. Oleh karena itu, sektor manufaktur memiliki peranan yang sangat penting guna mencapai sasaran tersebut,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, dalam laman kemenperin.go.id.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, lima sektor yang memberikan sumbangsih paling besar terhadap capaian nilai ekspor industri pengolahan, yaitu industri makanan yang menyetor hingga USD 27,16 miliar atau berkontribusi sebesar 21,46 persen. Selanjutnya diikuti industri logam dasar USD 17,37 miliar (13,72 persen).
Berikutnya, nilai pengapalan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tercatat USD 12,65 miliar (10 persen), industri pakaian jadi menembus USD 8,3 miliar (6,56 persen), serta industri kertas dan barang dari kertas yang menyetor USD 7,27 miliar (5,74 persen).
Adapun lima negara tujuan utama ekspor produk manufaktur, yakni ke Amerika Serikat (13,64 persen), Tiongkok (13,48 persen), Jepang (8,7 persen), Singapura (6,94 persen), dan India (5,17 persen). “Pemerintah terus berupaya memperluas pasar ekspor, terutama ke negara-negara nontradisional,” tegas Agus.
