
Jakarta, businessnews.id — Sepanjang tahun 2014, Intan Barunaprana Finance (IBF) memasang target penyaluran pembiayaan sebesar Rp 1,1 triliun. Sedangkan posisi hingga akhir September 2014 telah mencapai 70 persen dari target tersebut.
Menurut Direktur Utama IBF Jap Hartono, di Jakarta (6/11/2014), target tersebut akan tercapai seiring dengan perluasan sektor yang dibidik.
“Kami mengubah porsi pembiayaan alat berat dari alat pertambangan terutama batubara, ke sektor lain seperti alat berat untuk pertanian, industri minyak dan gas (migas), dan infrastruktur yang saat ini lagi booming,” terang dia.
Sejak tahun 2012, IBF telah mulai mengalihkan perhatian kepada pembiayaan alat berat sektor lain.
“Tahun 2012, kami sudah mulai meninggalkan pembiayaan alat berat untuk tambang batubara sehingga saat harganya turun kami sudah punya gantinya,” terang dia.
Hal itu bisa dilihat dari data Juni 2013, pembiayaan alat berat tambang batubara mencapai 54 persen; transportasi/logistik sebesar 21 persen; agrobisnis 5 persen; konstruksi 5 persen.
Kata dia, di Juni 2014, batubara tinggal 49 persen; transportasi/logistik menjadi 25 persen; agrobisnis 6 persen; sisanya ada di migas, konstruksi, tambang mineral.
“Tahun 2015, kami menargetkan penyaluran pembiayaan mencapai angka Rp 1,3 triliun hingga Rp 1,5 triliun,” katanya.
Harga Saham Saat IPO
Sementara itu, Direktur BNI Securities Daniel Nainggolan mengatakan, IBF saat IPO (initial public offering/penawaran saham perdana) akan menawarkan per unit sahamnya pada kisaran Rp 311 hingga Rp 383.
Dengan jumlah total saham dilepas sebesar 1,67 miliar unit saham, IBF bakal mengumpulkan dana dari IPO di kisaran Rp 520 miliar sampai Rp 640 miliar.
“Yang terkumpul Rp 463 miliar jika per unit sahamnya Rp 311, dan Rp 536 miliar jika per unit sahamnya Rp 383.”
Selaku penjamin efek dari IPO itu, BNI Securities meyakini harga saham tersebut atraktif dan diserap pasar.
Ia menambahkan, price earning ratio (PER) dengan harga saham tersebut, sebesar 13 hingga 16 kali. Adapun angka PER di industri pembiayaan kini berkisar 18 kali. PER sering digunakan untuk menilai daya tarik investasi saham.
Sementara, Nainggolan menambahkan, NPM (net profit margin) IBF di Juni 2014 di di 16,69 persen. Adapun di Juni tahun 2013 sebesar 19,49%.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Editor: Achmad Adhito