Jakarta, TopBusiness—Saat ini, banyak perusahaan ingin mencapai bisnis proses yang sederhana melalui digital transformasi di setiap aspek operasionalnya. Inovasi teknologi yang dapat mendorong perubahan proses manual ke automisasi menjadi dasar kebutuhan akan pembayaran digital terutama di segmen Business-to-Business (B2B).
“Jika dibandingkan dengan segmen konsumen, proses transaksi relatif lebih mudah, di mana seller dan buyer dapat membayar dan menerima dana dengan cepat. Lain halnya dengan pembayaran B2B di mana metode pembayaran tradisional masih kerap digunakan melalui proses manual yang panjang dan rumit,” kata Dewi Rengganis, Industry Analyst, Telecoms and Payments APAC Region, Frost and Sullivan, dalam keterangan tertulisnya yang diterimanya hari ini oleh wartawannya Majalah TopBusiness.
Dewi berkata, melihat pada hal di atas, inovasi teknologi dalam pembayaran B2B saat ini diperlukan untuk menyederhanakan proses pembayaran dan meminimalisir biaya operasional. Selain itu, risiko keamanan seperti pencurian data dan informasi juga menjadi aspek utama yang mempengaruhi penentuan metode pembayaran di segmen B2B.
“Risiko lain seperti, beban hutang yang tidak tertagih (bad debts) dan pembayaran yang terlambat (payment delay) juga memiliki dampak berarti, terutama pada arus kas bisnis,” ucap dia.
Dengan begitu banyaknya risiko dan keterbatasan yang timbul dari pembayaran B2B, solusi seperti eInvoicing, blockchain, dan digital currency, dapat menjawab keterbatasan dari pembayaran B2B tradisional. Transformasi digital dengan mengacu pada kemudahan proses A/P dan A/R serta meminimalisir proses administrasi seperti faktur, pelaporan pajak, atau rekonsiliasi, dapat mendorong adopsi pembayaran digital B2B di Indonesia.
Tren teknologi di atas muncul karena adanya keterbatasan layanan yang ditawarkan oleh penyedia jasa pembayaran yang tersedia. Adanya fintech di Indonesia yang melihat celah bisnis untuk menawarkan kemudahan pembayaran di segmen B2B, terutama segmen SME dan penyedia platform eCommerce, memicu munculnya alternatif pembayaran dengan solusi digital pendukung yang belum mampu ditawarkan oleh tradisional bank.
“Namun demikian, dengan banyaknya use case yang timbul di dunia pembayaran digital, kolaborasi dan kerjasama antara fintech operator maupun institusi keuangan diharapkan dapat membantu akselerasi inovasi digital untuk pembayaran B2B di Indonesia,” Dewi berkata.
Beberapa fintech penyedia layanan pembayaran digital B2B yang beroperasi di Indonesia, seperti Xendit, InstaPay dari MC Payment, dan Payoneer telah membangun ekosistem pembayaran digital B2B di Indonesia. Inovasi layanan A/P dan A/R, serta sistem pengelolaan faktur maupun pengiriman dana dapat menjawab kebutuhan korporat akan automisasi transaksi pembayaran dan pembelian di segmen B2B.
Melihat dari perkembangan ini, digital transformasi di pembayaran B2B digital di Indonesia telah berjalan. Namun demikian, kebutuhan akan pembayaran digital baik dari sektor B2B maupun konsumer terus bertumbuh, seiring dengan lajunya perkembangan teknologi.
“Input analisis saya, digitalisasi perdagangan global dapat memicu evolusi pembayaran B2B maupun konsumer menuju sistem pembayaran yang cepat, tanpa batas dan transparan. Tren ini akan berlanjut kedepannya, dengan mengkombinasikan layanan data-rich di mana data akan tersedia untuk dianalisis untuk berbagai kebutuhan seperti pengembangan produk, misalnya biometrics, predictive analysis, fraud detection atau payment status tracker.”
Sumber Ilustrasi: Istimewa
