Jakarta, TopBusiness – Sepanjang 2019, PT Pertamina (Persero) mencatat total laba bersih (unaudited) sebesar USD 2,1 miliar atau setara dengan Rp 29,4 triliun (kurs Rp 14.000 per USD).
Realisasi tersebut merosot sebesar 17 persen dibanding capaian laba bersih tahun 2018 yang sebesar USD 2,5 miliar atau setara dengan Rp 35 triliun.
Manajemen Pertamina berdalih, merosotnya laba hingga aset tersebut disebabkan salah satunya akibat penurunan rata-rata harga acuan minyak mentah Indonesia (ICP) sepanjang 2019 menjadi USD 62,3 per barel dari tahun sebelumnya USD 67,5 per barel.
“Asumsi ICP kita mengacu pada ICP USD 51,2 per barel 2017, USD 67,5 per barel 2018, USD 62,3 per barel 2019. Angka 2019 masih prognosa belum audit ini,” kata Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina, Heru Setiawan di Jakarta, Senin (3/2/2019).
Tak hanya laba, Pertamina juga mencatatkan penurunan total pendapatan sepanjang 2019 menjadi USD 52,4 miliar dari sebelumnya USD 57,9 miliar di 2018.
“Dilihat dari revenue tahun 2017 itu USD 46 miliar, kemudian di 2019 USD 52,4 miliar. Ini penurunan dari 2018 yakni sebesar USD 57,9 miliar,” tuturnya.
Sementara itu, untuk EBITDA pada tahun lalu sebesar USD 8,2 miliar, turun dari tahun 2018 yang sebesar USD 9,2 miliar. “Total aset juga mengalami penurunan (dari) USD 64,7 miliar (2018) menjadi USD 63,8 miliar (2019),” ujar Heru.
