Jakarta, TopBusiness—Staf Khusus Menteri Dalam Negeri RI (Stafsus Mendagri) Kastorius Sinaga, mengatakan bahwa kaum muda, atau sering disebut sebagai generasi Y/milenial dan Z, yaitu kelompok penduduk berusia di bawah 39 tahun, menempati porsi terbanyak sebesar 63% atau 167,6 juta jiwa di dalam struktur piramida demografi Indonesia saat ini.
Kaum muda dengan jumlah 160 juta lebih itu adalah harapan dan sekaligus tulang-punggung Indonesia di masa depan.
“Terlebih dalam kaitan dengan prediksi ekonomi, bahwa tahun 2030 Indonesia akan menempati peringkat ke 10 terbesar di dunia dilihat dari skala PDB, maka generasi muda usia produktif tersebut merupakan ‘bonus demografi’ bagi Indonesia,” kata pakar sosiologi dari UI itu, saat menjadi pembicara dalam Rakornas KNPI di Jakarta, akhir pekan ini.
Dari sisi ketersediaan sumber daya alam, terletak di persilangan geopolitik yang dinamis, dan punya sisi potensi demografi, Indonesia sangat memiliki peluang emas menjadi negara kuat di masa depan.
“Sementara negara-negara lain seperti Jepang, Singapura, Taiwan saat ini mengalami tren faktual ‘aging population’ atau negara dengan populasi usia tua, kita Indonesia, sebaliknya. Yakni memiliki generasi milenial yang enerjik yang dapat menggerakkan mata rantai produksi dan konsumsi yang sangat tinggi, berbasis kemajuan IT,” tandasnya.
Kata Kastorius, KNPI harus mengenali potensi tersebut. Utamanya juga KNPI harus mengenali perangai atau karakter generasi tersebut, yang sangat berbeda dengan generasi ‘baby boomers’ pendahulunya. KNPI juga harus secara kreatif berperan aktif untuk mengisi pembentukan karakter politik yang kuat bagi kaum muda dengan menggunakan kemajuan IT.
Saran Kastorius untuk KNPI, adalah pengarusutamaan nilai-,nilai Pancasila berbasis IT secara kreatif.
Dampak demokrasi elektoral yang terjadi di Indonesia telah menyuburkan karakter sempit berupa menjamurnya sikap intoleransi di masyarakat, akibat eksploitasi berlebihan atas politik identitas berbasis agama dan etnik untuk tujuan politik praktis Pilkada atau Pemilu lainnya.
Terlebih lagi dengan dominasi media sosial yang digunakan untuk menebar ‘hoax and hate’ (kebohongan dan kebencian terhadap perbedaan) di atas tren ‘post truth’ yang memanipulasi sentimen identitas. Kaum muda sangat rentan terpapar ke dalam paham-paham radikal.
Padahal bila dilihat lebih jauh, terdapat enerji positif yang menjadi basis kekuatan kaum muda milenial kita. “Enerji positif ini terletak di dalam karakter khas kaum muda milenial seperti akrab dengan teknologi informasi, bergerak sesuai ‘passion’, memiliki pola komunikasi terbuka, antifeodal dan menyukai tantangan dan kreatifitas,” kata dia.
Bila ke dalam karakter positif ini ditanamkan nilai-nilai Pancasila seperti ‘unity in diversity’ (persatuan di dalam keberagaman), nilai-nilai kecintaan atas tanah air dan kemanusiaan, di samping membangun ekosistem enterpreneuship dan cipta lapangan kerja yang saat ini sangat gencar dilakukan pemerintah, maka kelak ada Indonesia Unggul yang kuat sebagai bangsa.
Foto: Istimewa
