
Jakarta, businessnews.id — Lahan gambut yang dimanfaatkan untuk pertanian, saat ini, baru seluas 2,4 juta hektar. Sementara, total luas lahan itu di 14,9 juta hektar di mana 55%-nya masih hutan alam.
“Maka, lahan gambut yang dimanfaatkan baru sekitar 20%,” kata Sekretaris Jenderal Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), Suwardi, di Jakarta hari ini (23/12/2014).
Suwardi, dalam satu seminar yang diselenggarakan Masyarakat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapitek), berkata bahwa dari total lahan 14,9 juta hektar itu, sebagian untuk perkebunan sawit. Di sini, luasnya 1,6 juta hektar.
Seluas 3,9 juta hektar adalah lahan terdegradasi. Hal ini terjadi karena lahan itu dibuka, namun tidak dimanfaatkan.
“Kemudian 0,6 juta hektar merupakan lahan bekas tambang. Dan 10% untuk infrastruktur dan fasilitas umum,” kata dia.
Lebih jauh dia berkata, pengelolaan lahan gambut berwawasan lingkungan melalui rekayasa teknologi tata kelola air atau ekohidro, perlu dipraktikkan untuk pemanfaatan lahan secara produktif di Indonesia.
Dari sisi lingkungan, inovasi teknologi ini mampu memertahankan fungsi lahan gambut sebagai penyimpan karbon, dan menjaga kelangsungan plasma nuftah.
Gambut, dia berkata lagi, merupakan lahan masa depan bagi pertanian, perkebunan, dan hutan tanaman industri bila dikelola dengan tepat.
“Hanya saja, perlu teknologi dan pengelolaan yang bertanggung jawab agar tidak ada kekisruhan di kemudian hari,” katanya.
Penulis/Peliput: Dhi
Editor: Dhi