
Jakarta, businessnews.id — Bank Mutiara merencanakan membukukan laba sebesar Rp 48 miliar di tahun 2015. Perolehan laba setelah pajak tersebut akan ditopang oleh penjualan aset kredit macet.
Menurut Direktur Utama Bank Mutiara, Ahmad Fajar, di Jakarta hari ini (30/12/2971), pemilik baru Bank Mutiara yakni J Trust menginginkan segera adanya laba di laporan keuangan 2015.
“Mereka ingin kami segera membukukan laba, namun pada tahun 2015 mendatang kami lebih moderat yakni di kisaran Rp 48 miliar,” terang dia.
Penjualan aset kredit macet diharapkan dapat menyumbang 60% dari total laba yang diinginkan, dan selebihnya dari pendapatan bunga serta fee based income.
“Jumlah aset kredit itu paling tidak Rp 3 triliun yang terdiri dari aset tanah dan bangunan, serta surat-surat berharga,” terang dia.
Namun itu tidak mudah karena banyaknya aset yang sulit dijual. Misalnya, tanah di Sukabumi dan Tangerang yang berlokasi di dalam tanah pihak lain. Maka, tidak ada akses ke tanah aset tersebut.
Untuk itu, telah muncul wacana agar J Trust sebagai pemilik 99% saham Bank Mutiara, membentuk perusahaan manajemen aset untuk merekapitalisasi aset itu.
“Sehingga nantinya aset itu dibeli oleh J Trust kemudian dijual. Maka, posisi kredit macet tersebut bersih dari laporan keuangan Bank Mutiara,” terang dia.
Penambahan Modal Rp 1,3 Triliun
Fajar pun menjelaskan, J Trust menganggarkan belanja modal Rp 1,3 triliun untuk menambah modal Bank Mutiara. Penambahan modal akan berlangsung bertahap sedari Desember 2014 sampai tahun 2017.
Hal itu sebagai bentuk komitmen J Trust kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat uji kelayakan dan kepatutan.
Tambahan modal tersebut juga diikuti dengan pengubahan segmen pasar Bank Mutiara ke kredit kecil dan mikro. Tahun 2015, pihaknya akan menambah 30 gerai mikro. Maka, total jumlahnya menjadi 48 gerai.
Selain itu, portofolio kredit mikro akan mencapai Rp 500 miliar di akhir tahun 2015; saat ini, baru di Rp 150 miliar.
Meningkatkan kapasitas kredit mikro dan kecil, pihaknya akan membentuk replika bisnis yang akan diterapkan di koperasi dan sejenisnya.
“Replika ini yang akan kami perbanyak sebab biaya operasionalnya murah. Kami membuat sistem dan prosedur dan nantinya akan dijalankan oleh koperasi yang bekerja sama dengan kami,” terang dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Ed: Dhi