Jakarta, TopBusiness – Lembaga pemeringkat efek, PT Pefindo memberikan peringkat idA atas rencana penerbitan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) senilai maksimum Rp 1 triliun, termasuk tahap I/2020 sebesar Rp 500 miliar.
Pada saat yang sama, Pefindo menetapkan kembali peringkat idAA- untuk Bank BJB dan Obligasi Berkelanjutan I/2017, serta peringkat idA untuk Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I/2017. Itu tercermin dari website pefindo.com, di Jakarta, belum lama ini.
Peringkat obligasi subordinasi adalah dua tingkat lebih rendah dari peringkat Perusahaan untuk mengakomodasi risiko surat utang tersebut yang dapat diturunkan nilainya jika non-viability event terjadi, sebagaimana tercatat dalam PBI No. 15/12/PBI/2013.
Prospek peringkat tersebut adalah stabil.
Efek utang jangka panjang dengan peringkatidA mengindikasikan bahwa kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut, dibandingkan dengan Obligor lainnya di Indonesia adalah kuat.
Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi, dibandingkan dengan efek utang yang peringkatnya lebih tinggi. Peringkat Perusahaan tersebut mencerminkan posisi Bank BJB yang kuat di industri perbankan nasional, adanya pasar captive di provinsi Jawa Barat dan Banten, dan tingkat permodalan yang kuat.
Namun peringkat tersebut dibatasi tingkat kredit bermasalah (NPL) yang tinggi dari segmen kredit produktif dan indikator profitabilitas yang moderat. Peringkat tersebut dapat dinaikkan, jika Bank BJB mampu memperkuat profil usaha dan pada saat yang bersamaan meningkatkan indikator kualitas aset dan profitabilitasnya secara signifikan dan berkelanjutan.
Peringkat tersebut dapat diturunkan, jika pangsa pasar Bank BJB sangat menurun atau indikator keuangan mengalami pemburukan yang signifikan khususnya pada profil profitabilitas dan kualitas aset.
