Jakarta, TopBusiness – Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai adanya pengalihan order dari China menyusul wabah virus Corona yang meluas di negara tersebut menjadi momentum baik bagi Indonesia.
“Ini momentum yang baik untuk didorong agar utilisasi pabrik ditingkatkan dan kesempatan Indonesia untuk menarik investasi. Karena manajemen risiko dari negara mitra (dagang) kita bahwa Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara bisa mengantisipasi risiko global supply chain,” tutur Menko Airlangga Hartarto, di Jakarta, seperti dikutip Kamis (5/3/2020).
Pemerintak akan terus mendorong ekspor potensial demi mendukung pertumbuhan ekonomi berkualitas di tengah perlambatan industri manufaktur global. Adapun industri manufaktur Indonesia diyakini masih bisa berekspansi dengan Purchasing Managers Index (PMI) mencapai 51,9 pada Februari 2020.
Nilai PMI tersebut merupakan yang tertinggi dalam 6-7 bulan terakhir, dan jika dibandingkan dengan negara tetangga juga masih lebih tinggi. Hal ini disebabkan terjadinya pemindahan order dari China ke Indonesia. Mewabahnya virus corona yang dimulai di Tiongkok dan meluas ke negara-negara lainnya, termasuk Indonesia memang menjadi tantangan bagi perekonomian global.
Padahal sebelumnya, sejumlah lembaga internasional sudah memproyeksi pemulihan perekonomian di beberapa negara tertentu yang akan mendorong perbaikan pertumbuhan ekonomi global. Laporan mencatat, insiden wabah virus corona membuat kinerja industri manufaktur global mengalami penurunan.
Dia melanjutkan, fundamental perekonomian Indonesia
juga tetap stabil dan terjaga. Pertumbuhan tetap terjaga pada kisaran 5% di
2019 dengan pendorong utama berasal dari konsumsi domestik dan investasi
(PMTB), dimana pertumbuhan sejalan dengan perbaikan kualitas indikator sosial.
“Keberhasilan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari sinergi
kebijakan yang telah dilakukan pemerintah. Kami berkomitmen untuk terus
meningkatkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, reformasi struktural, serta
keberlanjutan yang akan mendorong transformasi ekonomi untuk mengatasi
tantangan pada 2020,” katanya.
Transformasi ekonomi yang akan dilakukan tentunya terpengaruh oleh risiko
eksternal juga. Risikonya berupa defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan
yang membuat Indonesia rentan terhadap gejolak eksternal. Terlepas dari itu,
Indonesia diharapkan dapat terus mencetak pertumbuhan ekonomi berkualitas dan
inklusif sepanjang tahun ini. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia mencapai 5,3% pada 2020.
“Jadi, kami akan mempermudah impor dan ekspor. Hal yang bersifat administratif
untuk dua hal itu akan dimudahkan dan disederhanakan. Dengan (Rancangan)
Undang-Undang Cipta Kerja akan bisa streamlining procedure. Untuk setiap titik
ekspor, semuanya harus bisa disiapkan, seperti sertifikat kesehatan, origin,
dan sebagainya,” ujar Menko Airlangga.
Untuk impor bahan baku akan diperluas untuk menjaga momentum peningkatan
ekspor, jadi sedang dikaji kemungkinan relaksasi Pajak Penghasilan (PPh) dan
Bea Masuk, sehingga bahan baku akan langsung bisa dimanfaatkan untuk produksi.
“Ini akan disiapkan menjadi paket stimulus kedua. Ini sudah program Presiden,
kita mempersiapkan 8 paket kebijakan, 4 terkait prosedural, dan 4 terkait
fiskal,” tuturnya.
