Jakarta, TopBusiness – Imbas dari sebaran virus corona atau Covid-19 tidak hanya ke masalah kesehatan. Sektor ekonomi dalam negeri pun harus bersiap-siap mengalami penurunan akibat dari virus ini. Namun demikian, di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya baik, para pelaku sektor perdagangan berjangka komoditi justru masih memberikan optimismenya di tahun ini.
Data volume transaksi di PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) sepanjang tahun 2019 yang dilaporkan di PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) menyebutkan, di sektor perdagangan berjangka komoditi (PBK) rata-rata transaksi harian mencapai 30.552 lot (exclude Single Stock).
Transaksi trersebut meliputi Komoditi SPA sebesar 63,80%, Index 7,83%, Currrency 9,63%, Primer 18,41%, dan Single Stock 0,32%. Dari sektor pasar fisik komoditas, untuk transaksi timah murni batangan mencatatkan volume transaksi 5.436 lot. Sedangkan untuk gula kristal rafinasi, volume transaksi selama 2019 mencapai 19.429 lot.
Sedangkan dalam 2 bulan pertama di tahun 2020, rata-rata transaksi harian mencapai 40.286,4 lot (exclude Single Stock). Transaksi trersebut meliputi komoditi SPA sebesar 69.41%, Index 8.05%, Currrency 7.42%, Primer 15.01% dan Single Stock 0.03%.
Dari sektor pasar fisik komoditas, untuk transaksi timah murni batangan mencatatkan volume transaksi 2,939 lot.
Stephanus Paulus Lumintang, Direktur Utama BBJ mengatakan, pihaknya masih optimis bisnis ini ke depannya. Covid-19 menambah ketidakpastian dalam investasi dan perdagangan, akibatnya harga komoditi bergejolak semakin lebar.
“Ada yang turun tajam, ada yang naik tajam. Hal ini membuka peluang buat hedger dan spekulator untuk memanfaatkan produk-produk berjangka kami. Ini bisa dilihat dalam volume rata-rata harian selama dua bulan pertama yang sangat meningkat dibanding tahun sebelumnya,” tandas dia di Jakarta, Rabu (18/7/2020).
Dengan kondisi tersebut, pihaknya yakin kalau bisnis berjangka di tahun 2020 ini akan ada pertumbuhan sebesar 15% dibandingkan tahun 2019 lalu.
Fajar Wibhiyadi, Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) menambahakn, secara nasional, mungkin issue corona akan memberikan pengaruh. Tapi dari sektor perdagangan berjangka komoditi, justru pihaknya melihat, masalah ini tidak akan mengganggu terlalu jauh terhadap kinerja perdagangan berjangka komoditi.
“Data perdagangan yang terlihat positif dan terus mengalami pertumbuhan. Dengan peran serta semua stakeholder, kami masih optimis, pertumbuhan di perdagangan berjangka komoditi di tahun 2020 bisa lebih dari 15% dibandingkan tahun 2019 lalu,” ujar dia.
Fajar Wibhiyadi menegaskan, di tahun 2020, selain di transaksi perdagangan berjangka komoditi, sektor pasar fisik juga diproyeksikan akan tumbuh. “Masuknya komoditas timah batangan di pasar fisik, diperkirakan juga akan menggairahkan perdagangan di bursa komoditi,” pungkas dia.
