Jakarta, TopBusiness – PT PT Bank BTPN Tbk (BTPN) masih mencatatkan kinerja positif seiring perlambatan ekonomi global di 2019. Perseroan mampu menyalurkan kredit sepanjang tahun lalu mencapai Rp 141,8 triliun atau tumbuh 108% dari periode yang sama di 2018 (year on year/yoy).
Direktur Utama Bank BTPN Ongki Wanadjati Dana menegaskan, di tengah situasi perekonomian global yang menantang, Bank BTPN senantiasa menjaga penyaluran kredit tetap sehat dan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Hal ini tercermin pada rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang hanya sebesar 0,8% (gross).
“Penyaluran kredit sepanjang 2019 salah satunya ditopang pembiayaan korporasi sebesar Rp 75,7 triliun, tumbuh 15%. Penyaluran pembiayaan dilakukan melalui sejumlah sindikasi untuk proyek ketahanan energi, ketahanan pangan, serta infrastruktur,” tutur dia di Jakarta, Selasa (24/3/2020).
Selain kredit sindikasi, Bank BTPN juga memberikan pinjaman secara bilateral ke perusahaan swasta nasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), industri otomotif, hingga perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor.
Sebagai contoh, Bank BTPN bersama induk usahanya, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) memimpin sindikasi pembiayaan dari 18 institusi perbankan dan lembaga keuangan global kepada PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III senilai US$ 390,6 juta pada tahun lalu.
Selain perumbuhan kredit yang prostif, sampai akhir Desember 2019, perseroan juga berhasil mencatatkan kenaikan asset mencapai 79% secara tahunan menjadi Rp181,6 triliun. “Sehingga dengan kondisi itu, posisi laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) mencapai Rp 2,6 triliun atau meningkat 40% secara yoy,” tutur dia.
Untuk menyeimbangkan laju kredit, Bank BTPN menghimpun pendanaan senilai Rp 145,8 triliun di 2019, meningkat 81% dari 2018. Jumlah tersebut terdiri dari dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp86,9 triliun, pinjaman pihak lain Rp52,9 triliun, serta pinjaman subordinasi Rp 6 triliun. Dari total DPK, Bank BTPN berhasil meningkatkan porsi current account savings account (CASA) menjadi 28% pada 2019, lebih tinggi dibandingkan porsi pada 2018 yang sebesar 13%.
Untuk kecukupan likuiditas, Bank BTPN memiliki liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 219% dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 113%, jauh di atas ketentuan minimum regulator 100%. LCR merupakan instrumen untuk menghitung rasio likuiditas jangka pendek, sedangkan NSFR untuk menghitung rasio likuiditas jangka panjang.
“Sementara CAR (rasio kecukupan modal) sebesar 24,2%, Bank BTPN masih memiliki kemampuan ekspansi yang kuat. Sehingga dengan dinamika perekonomian yang ada, hasil ini patut kami syukuri. Ini dapat memotivasi dan menjadi modal kami untuk melayani lebih banyak jutaan rakyat Indonesia,” pungkas Ongki.
Foto: detik.com
