Jakarta, TopBusiness – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut sejauh ini pandemic covid-19 telah menimbulkan tekanan pada perekonomian seluruh negara di dunia dengan dampak mencapai 3% hingga 16% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP).
Dan dari kondisi tersebut, kata dia, isu utama yang perlu menjadi perhatian adalah penanganan kesehatan masyarakat, sehingga dukungan dalam penyediaan alat-alat kesehatan, treatment pasien, riset vaksin dan obat, serta pencegahan wabah di masa depan menjadi sangat penting.
“Untuk itu, stabilitas keuangan global menjadi kunci menjaga perekonomian serta kepercayaan masyarakat,” tutur Sri Mulyani dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyampaikan komitmen negara-negara maju dalam G20, di Jakarta, Rabu (1/4/2020).
Selain itu, kata dia, untuk global trade dan cross border trading perlu direlaksasi agar kegiatan perekonomian masyaraat tetap terjaga. “Sementara masalah global social safety net menjadi tantangan yang juga perlu menjadi perhatian seluruh negara anggot G20 itu,” katanya.
Untuk itu, negara-negara G20 itu mendukung komitmen IMF dan Bank Dunia Group untuk memberikan pembiayaan, baik melalui IMF’s SDR allocation, fasilitas swap line, maupun lending capacity lainnya dengan focus alokasi kepada negara-negara yang paling terkena dampak wabah Covid-19 dan paling membutuhkan serta fleksibilitas pembiayaan yang memadai.
Sejauh ini, kata dia, negara-negara di G20 sendir sudah memberikan dukungan fiscal untuk penanganan covid-19 ini untuk mencegah krisis ekonomi. Masing-masing adalah, Australia mencapai A$ 189 miliar (9,7% dari PDB, Kanada $ 138 miliar (6,0% dari PDB), China RMB 1,3 triliun (1,2% darp PDB), Perancis Eur 45 miliar (2% dari PDB), Jerman Eur 156 miliar (4,5% dari PDB), Italia Eur 25 miliar (1,4% dari PDB), Korea Krw 16 triliun (0,8% dari PDB).
Kemudian Malaysia RM 6 miliar (0,4% dari PDB), Arab Saudi $ 18,7 miliar (2,7% dari PDB), Singapura S$ 54,4 miliar (10,9% dari PDB), Spanyol Eur 8,9 miliar (0,7% dari PDB), dan Amerika Serikat US$ 2,1 triliun (10,5% dari PDB). “Angka tersebut yang telah dilakukan dunia guna tak hanya untuk mengatasi krisis covid-19 atau krisis kesehatan tapi juga krisis ekonomi,” pungkas dia.
