Jakarta, TopBusiness – Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dengan kode perdagangan BBNI paling cepat rebound, dan ditutup Rp 4.010 per unit pada Rabu (9/4/2020) kemarin. Kenaikan lebih dari 20% hanya dalam hitungan hari.
Dalam laman bni.co.id, di Jakarta, hari ini, pengamat pasar modal, Yazid Muammar, menyatakan potensi rebound saham BNI termasuk paling cepat dibandingkan bank besar lainnya. Hal ini terlihat dari valuasi betanya yang berada di 1,5 kali. Selain itu, penurunan saham BNI juga masih belum 50% hingga saat ini, sementara pada 2008 penurunan sahamnya pernah lebih dari 75%.
Dia menilai, saat ini pun valuasi BNI dengan PBV 0,6 kali sudah termasuk murah dibandingkan bank besar lainnya, apalagi jika melihat rata-rata PBV BNI dalam lima tahun terakhir ada di posisi 1,45%.
PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, punya valuasi tinggi (overvalue) sedangkan saham dengan PBV di bawah 1 kali, punya valuasi rendah alias undervalue.
“Untuk itu strategi masuk ke saham BNI adalah tepat saat ini, dengan cara beli cicil. Besar kemungkinan BNI akan kembali ke PBV normalnya. Lantaran saham-saham blue chip akan lebih dulu diincar investor bermodal besar dan membuat valuasinya juga meningkat,” kata Yazid.
Sementara Analis Profindo Sekuritas, Dimas Wahyu, menyatakan secara teknikal BNI memang tengah fase koreksi, dengan arah penurunan ke kisaran Rp 3.450/saham sebagai bottom fishing (membeli di harga terendah). Sementara target kenaikannya ditargetkan ke level resisten Rp 4.659/saham.
