Jakarta, TopBusiness—Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad, mengatakan hari ini bahwa pihaknya akan terus melebarkan akses bagi UMKM. Sehubungan dengan itu, NIM (net interest margin) BPD DIY akan dipangkas pada tahun 2020 ini.
“Dan dana murah yang ada di BPD DIY, kebetulan cukup tinggi untuk melebarkan akses UMKM kepada pembiayaan kami,” kata Santoso dalam wawancara dengan Dewan Juri Top BUMD 2020, suatu ajang penilaian-penghargaan untuk BUMD se-Indonesia, yang digelar Majalah TopBusiness bekerja sama dengan sejumlah lembaga seperti Institut Otonomi Daerah, Yayasan Pakem, PPM, Sinergi Daya Prima, Melani Harriman Associates, Dwika Consulting, Lembaga Kajian Nawa Cita, dan lain-lain.
Santoso menjelaskan pula bahwa BPD DIY pun punya produk kredit untuk membantu pemberantasan rentenir. Itu adalah Kredit Mikro Makarya, serta Kredit Angkringan.
Kredit tersebut dikelola oleh analis tersendiri yang telah mendapatkan pendidikan khusus. “Jadi, mereka itu adalah analis kredit mikro yang dilatih untuk memasarkan, mengelola, dan mengembangkan para nasabah mikro,” papar Santoso.
Dalam operasional bisnis, BPD DIY tidak ingin sekadar berkontribusi dengan memberikan setoran dividen kepada pemerintah daerah selaku pemegang saham. Namun, BPD DIY juga ingin selalu berperan dalam pengembangan ekonomi daerah. “Antara lain, BPD DIY ingin berkontribusi bagus dalam penanggulangan kemiskinan,” dia menegaskan.
Dalam kesempatan itu, Santoso pun memaparkan sejumlah poin penting tentang kinerja keuangan BPD DIY. Rasio BOPO bank tersebut, pada tahun 2019 di angka 67%. “Angka tersebut lebih bagus daripada angka rata-rata untuk BPD, yang di 73%,” Santoso berkata.
Selanjutnya, 49,8% dari kredit yang disalurkan di tahun 2019, merupakan kredit produktif. “Jadi, dalam hal ini, BPD DIY tidak hanya mengandalkan para PNS sebagai target pasar,” kata Santoso.
Sumber Foto: Malioboro News
