Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Daerah (PD) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bank Solo terus bertumbuh positif di tengah masyarakat di Kotamadya Surakarta, Jawa Tengah. Sebagai bank milik Pemkot Surakarta ini, Bank Solo berkiprah tak hanya mengincar keuntungan, tapi juga membantu para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, terutama yang beropersi di pasar-pasar tradisional.
Dalam hal ini, perseroan bisa sukses menggerus eksistensi kalangan rentenir yang selama ini menjerat para UMKM tersebut, terlebih bagi mereka sebagai pelaku usaha mikro. Terbukti, dengan produk khusus untuk menyaingi para lintah darat ini, Bank Solo mengandalkan Melati untuk melawan rentenir dan berhasil sedikit demi sedikit menguasai pasar (market).
Menurut Direktur Utama Bank Solo, Agung Riawan, sebagai bank yang memiliki aktivitas usaha BPR, pihaknya dari sisi layanan publik dan sosial telah berhasil berpartisipasi melawan rentenir dengan produk Melati itu. Produk tersebut, kata dia, tak lepas dari instruksi Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo kepada direksi Bank Solo yang berkoordinasi dengan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo pada 2016 lalu untuk membuat program kredit dalam rangka melawan rentenir.
“Instruksi ini langsung ditindaklanjuti dengan mendesain produk kredit yang murah dan cepat sebagaimana yang diharapkan Pak Walikota itu. Makanya dari suku bunganya pun sangat rendah. Dulu sebesar 6% per tahun. Sekarang menjadi 3% per tahun,” tutur dia saat acara penjurian Top BUMD Awards yang digelar Majalah TopBusiness, Selasa (14/4/2020).
Para debitur produk ini, lanjut Agung, adalah pelaku usaha mikro di Kota Surakarta yaitu para pedagang di pasar tradisional dan pelaku usaha mikro di sektor perdagangan/jasa/industri perumahan. Kredit ini memang diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan modal kerja dengan bunga yang murah, persyaratan ringan, dan proses yang cepat.
“Sehingga diharapkan dapat menjadi alat untuk melawan rentenir yang berada di pasar tradisional maupun di kampung-kampung di Kota Surakarta itu. Dan terbukti bisa menurunkan ketergantungan mereka terhadap rentenir. Memang belum sgnifikan, tapi sejauh ini sudah bisa mengeliminir rentenir hingga 5%. Itu cukup membanggakan atau paling tidak ada sesuatu yang bisa kami lakukan,” tuturnya.
Dia sendiri mengakui, meski terus ikut memerangi rentenir, namun harus diakui jam operasional mereka lebih pagi yakni sebelum jam bank buka. Akan tetapi strategi perseroan dalam proses pengajuan kredit yang bisa lebih cepat menjadi senjata utama.
“Kami bisa setujui pengajuan kredit Melati hanya satu jam, kalau kredit lainnya bisa proses hanya tiga hari. Dan terbukti responnya positif. Bahkan tingkat NPL (rasio kredit macet) Melati nyaris tak ada, yakni 0%. Karena petugas kami langsung keliling ke pasar-pasar setiap hari,” tandasnya.
Sejauh ini, kata dia, respon produk Melati ini sangat bagus baik dari jumlah nasabah maupun dari jumlah penyaluran kredit. Untuk penyaluran kredit mencapai Rp428 juta hingga akhir Maret 2020 ini dari target Rp2 miliar di tahun ini. Angka itu naik signifikan dar sepanjang 2019 lalu yang hanya Rp390 juta. Pun demikian dengan jumlah nasabah yang melonjak signifikan dari hanya 186 debitur di 2019 menjadi sebanyak 430 debitur dalam tiga bulan pertama di 2020 ini.
Sementara dari sisi rasio keuangan, Bank Solo juga tercatat positif. Perseroan berhasil mencatatkan laba sebelum pajak di tahun lalu sebanyakRp3,3 miliar naik dari sebelumnya Rp3,03 miliar (yoy). Untuk asset sebanyak Rp138,6 miliar, penyaluran kredit mencapai Rp119,72 miliar, dengan diimbangi rasio NPL yang kecil di angka 1,34% (2019), bahkan dalam kuartal I ini juga masih positif di angka 1,27%. Sementara perolehan dana yang berhasil dikumpulkan sebanyak Rp102,23 miliar, ditambah tabungan sebanyak Rp38,56 miliar dan deposito Rp63,67 miliar.
Foto: istimewa

Pengajuan saya sebulan lalu sampai sekrang belum ada jawaban lagi
Untuk pengajuan pinjaman saya sampai sekarang belu ada jawabannya lagi