Jakarta, businessnews.id – Meski sudah dilakukan mediasi namun perseteruan Masjid BSC Al-Futuwwah dengan developer PT FIM Jasa Eka Tama, tak kunjung selesai. Karena itu, warga maupun pengurus Masjid BSC Al-Futuwwah meminta Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta segera turun tangan. Pasalnya, pihak pengembang sudah menutup akses jalan masuk dan keluar Pondok Pesantren Yatim Piatu Dhuafa BSC Al-Futuwwah yang berlokasi di Jl. H. Tholib, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ketua Masjid dan Pesantren Yatim Piatu BSC Al Futuwwah, Muhammad Sanwani Na’im, mengatakan, pihaknya juga meminta kepada Walikota Jakarta Selatan, Camat Kebayoran Baru, dan Lurah Cipete Utara, agar menindak tegas Developer PT FIM Jasa Eka Tama, agar segera mengembalikan Hak Akses Jalan selebar 3 meter untuk warga masyarakat dan Jamaah Masjid Jamie’ BSC Al-Futuwwah.
Lebih lanjut Sanwani mempertanyakan, mengapa Ichsan Thalib, Direktur PT FIM Jasa Ekatama, yang mengelola radio dakwah Islam, hanya memberikan akses jalan selebar 1,5 meter dan berkelok-kelok dengan sudut siku-siku yang menyulitkan lalu-lalang jamaah dan warga menuju masjid.”Sampai saat saat ini belum menemukan titik temu perdamaian. Padahal permasalahan tersebut sudah dimediasikan oleh beberapa instansi namun hasilnya nihil,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (22/1)
Sanwani Na’im mengemukakan, kemelut ini bermula di bulan Desember 2012, saat Ichan Thalib membeli lahan disekitar masjid seluas sekitar 2700 M2. Pihak developer tidak melakukan komunikasi dengan pengurus masjid, sehingga ada lahan yang diperuntukkan bagi jalan warga selebar 3 meter tersebut, terpatok pagar beton, sehingga warga hanya mendapatkan jatah jalan seluas 1,5 meter.
Bahkan, dalam kurun waktu dua tahun, pihaknya mendapat ancaman dan intimidasi premanisme dari sejumlah oknum . Bahkan beberapa waktu lalu, Masjid BSC Al-Futuwwah didatangi 50 orang yang menggunakan sepeda motor dengan mengancam hingga menggunakan aksi premanisme. “Mereka meminta agar kami menurunkan semua spanduk yang bertuliskan penolakan terhadap ajaran syiah,” jelas Sanwani. Akibat kasus penyerangan ini, anak-anak yatim piatu dan jamaah menjadi trauma. (*)