Jakarta, TopBusiness – Tak dapat dipungkiri, di tengah pandemic virus corona atau covid-19 ini, ternyata semua sektor usaha terdampak. Termasuk di dalamnya sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Padahal saat krisis-krisis sebelumnya, baik krisis 1998 maupun 2008 sektor ini relative kuat, namun saat ini sektor UMKM begitu kelimpungan menghadapi bisnisnya yang terhambat bahkan mungkin tidak bakal selamat.
Menurut Kepala Ekonomi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Ryan Kiryanto beberapa sektor yang sangat terpukul akibat Covid-19 ini, di mana di dalamnya ada UMKM, adalah pertama, sektor pariwisata (tourism and travel), sektor penerbangan, sektor perdaganagn eceran, cuma minus pedagang yang menjual consumer goods. Kedua, sektor migas, otomotif, logistik, dan lainnya.
“Termasuk yang ketiga ini sektor perbankan atau industri jasa keuangan juga terdampak. Karena kita yang di hilir ini cepat atau lambat pasti akan terpukul,” tandas Ryan di acara diskusi online Forwada bertajuk, ‘Update UMKM: Jurus Bertahan Selama Pandemi Covid -19,’ Selasa (5/5/2020).
Apalagi memang, kata dia, perbankan sendiri sesuai arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah memberikan relaksasi kredit kepada UMKM dengan plafon maskimal Rp10 miliar. Sejauh ini pemerintah sendiri sudah mengucurkan insentif untuk membantu UMKM agar bisa bertahan dari wabah covid-19 ini. Di Amerika Serikat saja, kata dia, mengucurkan stimulus untuk sektor UMKM mencapai US$ 377 miliar dari total anggaran untuk mengatasi Covid-19 mencapai US$ 2 triliun.
Di Indonesia, pemerintah menyiapkan Rp150 triliun akan difokuskan untuk membantu sektor ini. “Ditambah kebijakan restrukturisasi kredit dari OJK untuk UMKM ini dilakukan dengan cara penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu, pengurangan tunggakan pokok, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit/pembiayaan dan atau konversi kredit/pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara,” ujar Ryan.
Aturan ini teruang dalam POJK No. 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Counter Cyclical. Restrukturisasi kredit/pembiayaan yang dilakukan antara lain dengan memberikan penundaan keringanan pembayaran angsuran melalui program restrukturisasi bagi kredit/pembiayaan leasing dengan jangka watu 1 tahun.
Dan kebijakan stimulus itu antara lain penilaian kualitas kredit/pembiayaan dana lain hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan/ atau bunga untuk kredit hingga Rp10 milliar. Pihak bank dapat melakukan restrukturisasi untuk seluruh kredit/pembiayaan tanpa melihat batasan plafon kredit atau jenis debitur, termasuk UMKM.
“Untuk debitur UMKM, bank juga dapat menerapkan dua kebijakan stimulus; pertama, penilaian kualitas kredit/pembiayaan/penyediaan dana lain berdasarkan ketepatan membayar pokok dan/atau bunga. Kedua, melakukan restrukturisasi kredit/pembiayaan UMKM tersebut, dengan kualitas yang dapat langsung menjadi lancar setelah dilakukan restrukturisasi kredit,” papar Ryan.
Lebih jauh dia menegaskan, tips-tips bagi UMKM untuk bertahan dari pandemi ini. Pertama, fokus pada kebutuhan konsumen. Kedua, terus berinovasi dan berkreasi baik di level produk maupun services sesuai dengan perubahan preferensi dan perilaku konsumen. Ketiga, kembangkan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan daya tahan ketika krisis melanda.
Keempat, tidak boleh cepat berpuas diri karena persaingan akan semakin keras. Kelima, persiapkan generasi berikutnya untuk menjadi pemimpin UMKM masa depan yang lebih tangguh. Keenam, Jaga hubungan baik timbal balik dengan vendor, supplier dan distributor. Ketujuh, berhimpun dalam organisasi UMKM sebagai sarana mengembangkan jejaring dan bisnis. Dan kedelapan, berkolaborasi dengan perbankan sebagai mitra strategis untuk sumber pembiayaan, informasi, dan pendampingan pengembangan usaha.
Senada dengan Ryan, praktisi pemberdayaan ekonomi masyarakat, Sigit Iko Sugondo mengatakan, UMKM bisa melakukan beberapa jurus ampuh agar usaha mereka tidak terhambat di tengah pandemi Covid-19 ini. Antara lain, jurus pertama, kreativitas dan inovasi. Kedua, memastikan cashflow terjaga dengan sehat. “Arus kas menjadi unsur paling penting dalam bisnis, sehingga pemilik usaha harus mampu mengelola uang tunai secara optimal,” katanya di lokasi diskusi yang sama.
Ketiga, UMKM harus memahami perubahan perilaku konsumen. Keempat, UMKM harus me-review produknya termasuk customer profile. Kelima, menyesuaikan strategi customer relations dan kanal penjualan. Keenam adalah dengan merencanakan ulang pendapatan dan memangkas anggaran biaya. Dan ketujuh UMKM dalam kondisi pandemic Covid-19 ini harus berkolaborasi, kerjasama usaha hingga dapat meningkatkan efisiensi, berbagi beban kerja dan bahkan mendapatkan ide-ide baru.
Foto: istimewa
