Jakarta, TopBusiness – Kinerja pasar modal di tengah pandemi Covid-19 ini masih menunjukkan kondisi yang positif. Tercatat, masih banyak pihak yang mencari sumber pendanaan dari pasar modal. Apalagi saat ini beberapa sentiment positif dari pasar global cukup membantuk laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Jadi, kendati masih di tengah tingginya potensi resesi, namun mulai dilonggarkannya lockdown di beberapa negara maju telah memberi sentimen positif dan mendorong penguatan pasar saham dan obligasi global pada Mei 2020 itu,” terang Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), WImboh Santoso, dalam keterangan resminya, Jumat (29/5/2020).
Ditambah lagi, lanjut dia, dengan meredanya volatilitas di pasar keuangan global telah berdampak pula pada pasar keuangan domestik yang bergerak relatif stabil di tengah masih tingginya penyebaran Covid-19 di Indonesia serta rilis data perekonomian domestik yang kurang positif.
Sampai dengan 20 Mei 2020, disebut Wimboh, untuk pasar saham tercatat IHSG ditutup di level 4.546 atau sedikit melemah sebesar -3,6% mtd (month to date). Sedangkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga relatif stabil dengan yield rata-rata menguat sebesar 11,9 bps mtd.
“Dengan investor nonresiden mencatatkan net buy sebesar Rp12,5 triliun mtd. Masing-masing dari pasar saham sebesar Rp8,0 triliun dan pasar SBN di angka Rp4,5 triliun. Ini berbeda dengan bulan April yang masih mencatatkan net sell sebesar Rp10,9 triliun,” kata Wimboh.
Dengan kondisi tersebut, maka sejak awal tahun sampai 26 Mei 2020 lalu, penghimpunan dana melalui pasar modal tercatat mencapai Rp32,6 triliun dengan 22 emiten baru. “Dan di dalam pipeline telah terdapat 67 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp31,6 triliun,” ungkapnya.
Untuk itu, ke depan OJK pun senantiasa memantau perkembangan pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian global dan domestik. OJK juga akan terus menyiapkan berbagai kebijakan sesuai kewenangannya menjaga stabilitas industri jasa keuangan, melindungi konsumen sektor jasa keuangan serta mendorong pembangunan ekonomi nasional.
“Apalagi dalam proyeksi IMF dan rilis data PDB triwulan I-2020 disebutkan mayoritas negara akan mengalami kontraksi pada triwulan selanjutnya akibat kebijakan lockdown yang telah diterapkan. Selain itu, rilis data high frequency terkini semakin meningkatkan keyakinan bahwa AS dan Eropa akan mengalami resesi pada triwulan II-2020,” pungkas Wimboh.
Foto: Rendy MR
