
Jakarta, businessnews.id — Analis Pefindo, Hendro Utomo, berkata di Jakarta hari ini, perencanaan yang belum terlalu bagus membuat pembangunan infrastruktur besar-besaran, kurang direspons investor.
“Pemerintah hanya menyediakan 25% dari total dana yang dibutuhkan. Sementara, 75% sisanya diharapkan dari investor swasta,” kata dia di Jakarta hari ini.
Investor yang mengharapkan pendapatan yang pasti, belum melihat adanya perencanaan bagus itu.
Anggaran infrastruktur naik menjadi Rp 282 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 (RAPBNP 2015) dari Rp190 triliun dalam APBN 2015.
Anggaran infrastruktur akan difokuskan untuk mengembangkan perumahan, bendungan, membangun irigasi bagi petani, dan mengembangkan wilayah perbatasan
Rupiah dan Perusahaan Pembiayaan
Hendro pun mengatakan, perusahaan pembiayaan di tahun ini bakal mengalami masa sulit. Sebab, pelemahan nilai tukar Rupiah ke USD berdampak ke pasar pembiayaan kendaraan bermotor.
“Dampak pelemahan Rupiah tersebut cukup kuat untuk sektor pembiayaan seperti Mandiri Tunas Finance dan Adira Finance,” kata dia.
Ia memerkirakan, produsen kendaraan bermotor menyesuaikan harga jika pelemahan Rupiah terus berlanjut. Kandungan bahan impor cukup besar dalam perakitan kendaraan bermotor, dan kenaikan harga dari situ tentu dibebankan ke konsumen.
Sementara bagi perusahaan pembiayaan yang melakukan pinjaman ke mata uang asing biasanya sudah melakukan lindung nilai (hedging). Selain itu, mereka juga memertimbangkan risiko tingkat bunga atau cross currency swap.
“Memang, Pefindo melihat cukup kuatnya dampak untuk sektor tertentu. Kendati demikian, ada beberapa hal yang dilakukan perusahaan dalam mencegah efek pelemahan Rupiah,” kata dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Ed/Up: Dhi