Jakarta, TopBusiness – Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eddy Soeparno menyebut, BUMN produsen baja, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) diperkirakan bakal terkendala tatkala adanya pandemi Covid-19. Untuk itu, Krakatau Steel maupun pemegang sahamnya untuk mengantisipasi kerugian perseroan yang akan terjadi akibat wabah Corona.
“Karena ke depannya, kinerja perseroan diperkirakan memburuk, sejalan dengan kondisi perekonomian nasional yang babak belur akibat Covid 19. Seperti industri konstruksi dan migas yang menjadi konsumen besar perseroan praktis nyaris mati suri tahun ini. Oleh karena itu saya mengantisipasi di akhir tahun 2020 perseroan akan merugi kembali,” papar dia dalam keterangan resminya, Senin (1/6/2020).
Namun, kata dia, karena Krakatau Steel merupakan salah satu industri strategis nasional dengan investasi yang begitu besar dan menyerap tenaga kerja yang signifikan, pemerintah tentu akan memberikan dukungan agar Krakatau Steel tidak kolaps.
Pernyataan Eddy ini tak lepas dari kinerja Krakatau Steel yang di kuartal I-2020 lalu adanya pencatatan laba bersih sebesar US$74,1 juta atau setara Rp1,07 triliun (kurs Rp 14.500) pada kuartal I-2020. Namun begitu, dirinya tak yakin kinerja Krakatau Steel itu masih postif. Pasalnya pencatatan laba hanya karena ada penjualan asset.
“Jika dilihat laporan keuangannya, Krakatu Steel bisa untung di kuartal I-2020 karena mencatat laba selisih kurs sebesar US$114 juta atau setara Rp1,65 triliun dan penjualan aset berupa inventaris senilai hampir US$34 juta atau hampir Rp500 miliar. Namun, di sisi lain, penjualannya justru turun hampir 35%,” ungkap dia.
Untuk itu, politisi PAN tersebut curiga, kinerja riil perseroan sesungguhnya masih merugi. Karena jika keuntungan Rp1,07 triliun dikurangi keuntungan kurs dan penjualan aset, Krakatau Steel justru tetap rugi sekitar Rp550 miliar. “Inilah gambaran kinerja KS yang sesungguhnya,” katanya.
Meski begitu, Eddy mengapresiasi adanya efisiensi biaya dalam operasi dan produksi Krakatau Steel. Akan tetapi, nominalnya tidak sebanding dengan nilai dari keuntungan non operasional berupa selisih kurs dan penjualan asset.
