TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Penyebab Inflasi Mei 2020 Melambat

Nurdian Akhmad
2 June 2020 | 17:58
rubrik: Ekonomi
Laju Inflasi Maret 2018 Capai 0,2 Persen

Jakarta, TopBusiness – Laju inflasi pada Mei 2020 berdasar catatan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 0,07 persen pada Mei 2020. Dengan begitu, inflasi secara tahun kalender (year to date/ytd) menjadi 0,90 persen, dan inflasi secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 2,19 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, melambatnya inflasi ini karena pemerintah sudah siaga memasok kebutuhan pangan pada bulan Mei. Di sisi lain, ada penurunan permintaan karena adanya PSBB dan pendapatan masyarakat menurun

Dari 90 kota IHK, inflasi terjadi di 67 kota IHK. Sementara deflasi terjadi di 23 kota IHK.  Inflasi tertinggi terjadi di Tanjungpandan sebesar 1,20 persen karena kenaikan harga ayam ras, ikan, dan bawang merah. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Tanjungpinang, Bogor, dan Madiun 0,01 persen. Selanjutnya, deflasi tertinggi terjadi di Luwuk 0,39 persen dan terendah terjadi di Manado 0,01 persen. B

“Angka inflasi melambat dibanding tahun lalu. Terjadi pola yang tidak biasa pada Puasa dan Lebaran kali ini akibat Covid-19. Biasanya, permintaan pada Ramadhan dan Idul Fitri meningkat sehingga mengerek inflasi kian tinggi,” ujar Suhariyanto dalam konferensi video, Selasa (2/6/2020).

Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi disumbang paling besar oleh sektor transportasi sebesar 0,87 persen dan menyumbang andil inflasi 0,10 persen. Komoditas yang memberikan andil inflasi pada sektor ini adalah tarif angkutan udara 0,08 persen dengan kenaikan di 39 kota, dan tarif kereta api 0,02 persen.

“Jadi meskipun pemerintah sudah mengimbau warga untuk tidak melakukan mudik, masih ada penumpang yang melakukan perjalanan,” ujar Suhariyanto.

Sementara itu, komoditas yang menyumbang inflasi adalah bawang merah 0,06 persen, daging ayam ras memiliki andil 0,03 persen, daging sapi 0,01 persen, dan rokok kretek filter 0,01 persen. Namun secara keseluruhan, sektor makanan minuman dan tembakau terjadi deflasi 0,32 persen, memberikan andil kepada deflasi 0,08 persen.

BACA JUGA:   Deflasi Februari Diharap Tak Sering Terulang

Komoditas yang memberikan andil pada deflasi, antara lain cabai merah 0,07 persen, telur ayam ras 0,06 persen, bawang putih 0,05 persen, cabai rawit 0,03 persen, bawang bombai 0,01 persen, dan gula pasir 0,01 persen.

“Selanjutnya pakaian dan alas kaki terjadi inflasi tipis 0,09 persen sehingga tidak menyumbang andil inflasi 2020. Perumahan air listrik dan gas terjadi inflasi 0,04 persen menyumbang 0,01 persen. Untuk komoditas lainnya, masih flat,” ucap Suhariyanto.

Lebih lanjut Kecuk menuturkan, pola serupa terjadi pada beberapa negara di dunia. Bahkan Filipina, Singapura, Vietnam, dan China mencatatkan deflasi pada April 2020. Filipina deflasi 0,1 persen, Singapura 0,01 persen, Vietnam 1,5 persen, dan China 0,9 persen.

 “Ekonomi dunia masih tidak pasti. Masing-masing negara terus menerus berupaya menyelamatkan warga namun ekonomi harus tetap berjalan. Harga komoditas di berbagai negara turun tajam, diperburuk dengan eskalasi perang dagang China-AS,” kata Suhariyanto.

Tags: bpsinflasi
Previous Post

RUPST Garudafood Tebar Dividen Rp28 per Saham

Next Post

Trik dan Tips Bisnis Hadapi Pandemi dari CEO PT Xynexis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR