
Jakarta, businessnews.id — Pelemahan Rupiah terhadap USD justru menguntungkan beberapa perusahaan yang operasionalnya didominasi oleh mata uang lokal, namun mendapatkan USD dari penjualan. “Kami justru sangat diuntungkan pelemahan Rupiah itu,” kata Direktur Utama Bukit Asam, Milawarma, di Jakarta (30/3/2015).
85% biaya operasional Bukit Asam dalam Rupiah, sedangkan 65% pendapatan dari USD. Maka, perlemahan itu menguntungkan pihaknya.
Tahun 2014, penjualan Bukit Asam senilai USD 17,96 juta. 48% dari situ tujuan ekspor dan sisanya domestik.
Dia pun menjelaskan, pihaknya membagika deviden senilai Rp 707,7 miliar atau Rp 324,60 per lembar saham. Angka ini 35% dari total laba bersih tahun pembukuan 2014 yang senilai Rp 2,02 triliun. “Jadi, itu sedikit di atas komitmen kami.”
Dari sisi perolehan laba bersih, dibandingkan tahun 2013, terdapat pertumbuhan 10%. Tahun2013, laba bersih yang dibukukan Rp 1,83 triliun. Sedangkan pendapatan 2014 juga naik 13% menjadi Rp 13,08 triliun.
Laba bersih itu didapat dari penjualan batu bara 17,96 juta ton, dengan rincian untuk pasar domestik 9,59 juta ton atau 52%. Sedangkan untuk ekspor 8,66 juta ton atau 48% total penjualan.
Rel Double Track
Dia pun menjelaskan, pihaknya mengincar volume penjualan 24 juta ton di 2015, yang berarti naik 33% daripada tahun 2014 yang di 17,96 juta ton.
Peningkatan tersebut akan tercapai jika transportasi batu bara dari lokasi tambang di Tanjung Enim menuju Pelabuhan Tarahan dan Dermaga Kertapati, didukung infrastruktur rel kereta double track.
“Jika infrastruktur kereta api double track selesai maka menambah kesanggupan mengangkut batu bara sebesar 18,97 juta ton, dibandingkan tahun sebelumnya 14,85 juta ton,” kata dia.
Dia menyampaikan, demikian juga dengan volume produksi dan pembelian batu bara dari pihak ketiga yang direncanakan sebesar 23,70 juta ton atau naik 30% tahun ini dibanding volume produksi dan pembelian tahun lalu.
Dengan rincian 15,88 juta ton dari unit pertambangan Tanjung Enim, 0,9 juta ton dari International Prima Coal, dan pembelian batu bara oleh Bukit Asam Prima sebesar 2,43 juta ton.
Volume penjualan tahun lalu sebesar 17,96 juta ton itu merupakan kontribusi dari produksi dan pembelian batubara dari pihak ketiga sebesar 18,17 juta ton.
Masing-masing produksi unit pertambangan Tanjung Enim sebesar 15,5 juta ton; produksi anak perusahaan yakni International Prima Coal sebesar 0,85 juta ton; dan pembelian batubara pihak ketiga oleh anak perusahaan lain yakni Bukit Asam Prima sebesar 1,80 juta ton.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Ed/Up: Dhi