Jakarta, TopBusiness—Pada saat sektor properti terdampak Covid-19 dan fase kenormalan baru (new normal) berjalan, investor properti bisa melakukan sejumlah strategi. Salah satu cara untuk itu adalah memilih unit properti ready stock sebagai instrumen investasi.
“Dengan unit ready stock, investor properti tidak perlu melalui fase tertentu yakni menunggu selesainya konstruksi,” kata pengamat properti, Alvin Andronicus, di Jakarta (18/6/2020), dalam suatu diskusi melalui internet.
Di samping itu, ada sebuah hal yang menguntungkan dengan memilih unit ready stock. “Yaitu, harganya sedang murah. Ini kan masanya konsumen punya posisi tawar yang lebih kuat. Dan tidak ada pengembang yang saat ini menaikkan harga secara signifikan,” kata direktur AKR Land tersebut.
Apakah pada kondisi saat ini, tingkat RoI (return of investment) untuk investasi properti, bisa lebih panjang ketimbang biasanya? Alvin menganalisis bahwa hal itu tergantung kepada tipikal properti yang dipilih investor properti.
“Yang jelas, semua pasti sepakat bahwa RoI itu memang hal yang basic dalam setiap investasi. Termasuk dalam hal ini, pada investasi properti,” papar Alvin.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Real Estate Broker Indonesia), Lukas Bong, menjelaskan bahwa melar atau tidaknya RoI investasi properti pada pasca-Covid-19 termasuk pada masa kenormalan baru, ditentukan oleh jenis propertinya. “Kalau tepat, RoI malah bisa lebih singkat,” kata Lukas.
Dijelaskannya bahwa bila investor properti membeli dengan harga yang lebih murah dan lokasi properti itu punya kondisi pasar yang bagus, RoI bisa lebih singkat. “Over all, memang harga properti saat ini terkoreksi. Dan sejatinya, ini saat yang tepat bagi investor properti,” Lukas menegaskan.
Adapun Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (DPD AREBI) DKI Jakarta, Clement Francis, berpendapat bahwa pada masa kenormalan baru, sejatinya potensi pembeli masih ada.
“1% dari masyarakat Indonesia, itu sudah mencapai 26.000 orang. Dan dari angka yang terhitung kecil dibandingkan total masyarakat Indonesia itu, kita bisa memprediksi potensi pasar properti pada saat ini, bukan?” dia beretorika.
Foto: Rendy MR/TopBusiness
