Jakarta, TopBusiness – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati optimistis ekonomi Indonesia tahun 2021 tumbuh di kisaran 4,5 hingga 5,5 persen. Proyeksi tersebut berdasarkan kondisi pandemi Covid-19 yang diprediksi mereda dan adanya pemulihan ekonomi RI mulai kuartal III dan Kuartal IV tahun ini.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menuturkan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan guna merespons dampak pandemi. Jika momentum bisa dijaga, maka diharapkan pemulihan ekonomi akan mulai terlihat pada kuartal-III dan kuartal-IV tahun ini.
“Kami dan Pak Gubernur BI tentu terus mengawal agar momentum perbaikan di kuartal-III dan kuartal-IV bisa terealisasi. Ini diharapkan menimbulkan konfiden untuk melihat proyeksi 2021,” katanya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, seperti dikutip, Selasa (23/2/2020).
Jika terjadi pemulihan pada kuartal-III dan kuartal-IV, maka outlook proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini ada di kisaran -0,4 persen sampai dengan 1 persen. “Ini kami upper end-nya yang 2,3 persen kami revisi ke bawah denga melihat kontraksi yang terjadi pada kuartal-II,” terang Sri Mulyani.
Sebagaimana diketahui dalam dokumen KEM PPKF 2021, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini di rentang -0,4 persen sampai 2,3 persen. Namun, dengan melihat perkembangan pandemi dan ekonomi dunia, maka outlook direvisi menjadi -0,4 persen sampai dengan 1 persen.
Sementara itu, outlook pertumbuhan ekonomi 2021 diproyeksikan di level 4,5-5,5 persen. Proyeksi ini tidak berubah dibandingkan angka yang disampaikan dalam dokumen KEM PPKF 2021.
Dalam rapat yang dihadiri Gubernur BI, Kepala Bappenas, Ketua DK OJK, dan Kepala BPS tersebut, Sri Mulyani juga memaparkan proyeksi dari sejumlah lembaga internasional. Tiga lembaga yang telah mengeluarkan proyeksi terbarunya, Juni ini, yaitu World Bank, OECD, dan ADB.
“Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 hanya 0 persen, dan tahun depan pulih di 4,8 persen,” kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.
Sementara itu OECD memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 tumbuh -3,9 persen hingga -2,8 persen. OECD memproyeksikan ekonomi Indonesia terkontraksi 3,9 persen jika terjadi second hit atau second wave alias gelombang kedua Covid-19.
“Kalau tidak terjadi di -2,8 persen. Untuk 201, OECD membuat proyeksi yang range-nya luas di 2,6 persen sampai dengan 5,2 persen,” imbuh Sri Mulyani.
Adapun ADB telah merevisi proyeksi awal pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 dari yang tadinya di atas 2 persen menjadi -1 persen. Untuk 2021, ADB memperkirakan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,3 persen.
April lalu, IMF mengeluarkan proyeksi bahwa ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh 0,5 persen. Sedangkan pada tahun depan, akan tumbuh hingga 8,2 persen.
“IMF biasanya melakukan revisi pada Juli. Nanti kita akan lihat bagaimana IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun ini dan tahun depan,” terang Sri Mulyani.
Dari berbagai outlook yang dikeluarkan berbagai lembaga internasional, konsensus Bloomber memperkirakan ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh 0,5 persen. Sedangkan tahun depan akan tumbuh di 5,5 persen.
Berkaca dari outlook yang dikeluarkan berbagai lembaga dunia tersebut, Sri Mulyani menuturkan, proyeksi yang dirancang pemerintah masih dalam kisaran banyak institusi. “Tentu karena kita tahu semua kondisi ini masih sangat tidak pasti, maka kisaran proyeksi terlihat sangat bervariasi antara institusi satu dan lainnya,” tutur dia.
