Jakarta, TopBusiness – Lembaga pemeringkat efek, PT Pefindo, menegaskan peringkat idAAA(sf) untuk Sertifikat EBA-SP SMF-BMRI01 Kelas A yang diterbitkan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (SMF, peringkat idAAA/stabil).
Per tanggal cut – off 31 Mei 2020, total nilai keseluruhan kumpulan aset yang masih beredar sebesar Rp 216,0 miliar, terdiri dari Kelas A sebesar Rp 172,5 miliar dan Kelas B yang tidak diperingkat sebesar Rp 43,5 miliar, yang merepresentasikan 8,7% dari total kumpulan aset (pool) awal sebesar Rp 500 miliar.
Analis, Hendro Utomo dan Hasnalia Hanifah, di Jakarta, dalam siaran pers, mengatakan bahwa efek utang dengan peringkat idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan. Kemampuan obligor untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut relatif dibanding obligor Indonesia lainnya adalah superior. Akhiran (sf) menunjukkan peringkat atas transaksi keuangan terstruktur.
Peringkat tersebut mencerminkan rasio utang terhadap nilai jaminan (loan to value/LTV ) yang rendah, umur kredit (loan seasoning) yang di atas rata-rata, nilai awal pinjaman yang rendah, profil PT Bank Mandiri Tbk (Persero) (BMRI, mendapat peringkat idAAA/stabil) sebagai penyedia jasa (servicer) yang sangat kuat, dan adanya penguatan kredit (credit enhancement) dalam bentuk EBA-SP kelas B dan dana cadangan. Peringkat tersebut dibatasi oleh rasio utang terhadap pendapatan (debt to income/DTI) yang tinggi.
“Kami berpandangan bahwa dampak Covid-19 pada profil kredit EBA-SP SMF-BMRI-01 dapat terkelola dengan baik, didukung oleh ketersediaan fitur struktural yang mencakup gangguan aliran uang seperti subordinasi Kelas B, cadangan dana yang disediakan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (SMF, peringkat idAAA/Stabil) sebagai penerbit terdiri dari pembayaran bunga 3 bulan yang dapat mencakup satu pembayaran kupon untuk pemegang instrumen dan biaya senior, dan spread bunga,” kata mereka.
Selain, juga melihat bahwa profil hipotek sekuritisasi di pool memiliki profil risiko yang cukup baik, mempertimbangkan portofolionya didominasi oleh karyawan debitur, yang menyumbang lebih dari 95% dari total debitur di pool. “Kami berpandangan bahwa KPR untuk debitur karyawan tidak terlalu terdampak pandemi, yang memberikan stabilitas yang lebih dibandingkan dengan debitur tanpa pendapatan tetap seperti pengusaha atau profesional, terutama dalam kondisi ekonomi saat ini. Segmen ini dapat bertindak sebagai bantalan untuk potensi penurunan kualitas aset sekitar 4% dari KPR non-karyawan. Namun, Pefindo akan terus memantau dampak Covid-19 pada kumpulan hipotek yang mendasarinya, skenario yang mungkin terkait dengan arus kasnya, dan pada akhirnya kekuatan struktur keamanan untuk menjamin pembayaran penuh dan tepat waktu kepada pemegang efek,” papar mereka.
Foto: Istimewa
