Pakar: Merger Bank Syariah BUMN Takkan Ada Kanibalisme

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, TopBusiness –  Pakar ekonomi syariah Syafii Antonio mendukung rencana pemerintah untuk menggabungkan bank syariah milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Penggabungan bank syariah pelat merah ini akan memperkuat pasar perbankan syariah di Indonesia.

Sebab, keempat bank ini, termasuk Unit Usaha Syariah (UUS) milik PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dinilai memiliki target market yang berbeda.

PT Bank Mandiri Syariah memiliki target market di bidang pendidikan, kesehatan, haji dan umroh. PT BRI Syariah Tbk (BRIS) memiliki target pasar UMKM, sedangkan PT BNI Syariah memiliki pasar untuk korporasi dan BTN Syariah fokus pada pembiayaan KPR Syariah.

“Ada 4 pasar dengan strategi dan arah sendiri. Sekarang juga sama BSM, BRIS, BNI, BTN sendiri-sendiri, kalau jadi satu policy, produk, karyawan menyatu jadi tidak akan terjadi kanibalisme, bisa menargetkan nasabah potensial,” ujar Syafii seperti dikutip, Selasa (7/7/2020).

Tak hanya itu, dia menyebutkan keuntungan penggabungan bank syariah ini akan membuat bank syariah BUMN ini akan mampu bersaing di pasar global, mengalahkan bank syariah milik Malaysia.

“Tapi setelah itu Indonesia akan jadi salah satu kekuatan financial dunia yang diperhitungkan. Bisa kalahkan Malaysia dan mendekatkan dengan Dubai, Kuwait dan Bahrain,” ucap dia.

Meski demikian, Syafii menyarankan agar penggabungan itu perlu disertakan dengan suntikan modal oleh masing-masing pemilik agar nanti bank ini bisa langsung jadi BUKU IV. Itu karena bank hasil merger ini masih mengalami kekurangan modal sebesar Rp 10 triliun untuk menjadi bank BUKU IV. Sehingga dia menilai pemilik bank ada baiknya menyuntikkan modal lebih dahulu sebelum digabungkan.

“Saran saya sebelum digabung menjadi bank syariah BUMN, minta induk nambah Rp 4 triliun masing-masing, jadi tambahnya ada Rp 12 triliun. Tambah Rp 10 triliun ada Rp 32 triliun. Jadi bank yang dimerger masuk ke BUKU IV harus ditambah dulu, kalau dipisah dulu sudah ga jadi anak Mandiri, BNI dan BRI,” kata dia.

Jadi Top 10

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan rencana penggabungan bank syariah milik bank BUMN menjadi satu dapat meningkatkan penetrasi pasar keuangan syariah di Indonesia.

Erick Thohir mengatakan bahwa saat ini perkembangan ekonomi syariah di dalam negeri masih di kisaran 8%, harus didorong meningkat di posisi 18%. Sebab menurutnya penetrasi keuangan syariah di Indonesia masih cukup rendah dibanding Malaysia.

Oleh karena itu, merger dilakukan guna memperkuat opsi pendanaan bagi pebisnis yang percaya pada keuangan syariah. Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbanyak di dunia, langkah ini dapat membuat Indonesia memiliki bank syariah berskala besar/

“Diharapkan menjadi bank yang funding kuat, modal dasar kuat dapatkan dana pinjaman yang competitive dibandingkan bank biasa. Perhitungan awal bank kalau digabungkan jadi top 10 yang ada di Indonesia,” kata Erick di Jakarta, Senin (6/7/2020).

Menurutnya penggabungan bank BUMN yang memiliki anak usaha syariah antara lain Bank Syariah Mandiri, Bank BNI Syariah, Bank BRISyariah, diharapkan mampu memperkuat pendanaan bank dan menjadi dasar untuk pendanaan yang competitive dibandingkan bank biasa.

Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa pasar keuangan syariah terhadap sistem keuangan di Indonesia per April 2020 baru mencapai 9,03%, naik dari posisi 2019 yang sebesar 8%.

“Ini coba dibedakan, mudah-mudahan Insyallah Februari  sekitar awal tahun depan periode bulan Januari hingga April sudah bisa terlaksana dan saya yakini ini suatu program yang bagus buat Indonesia mulai  membuka pasar syariah,” tegasnya.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar