Jakarta, TopBusiness – Pengembang properti PT Intiland Development Tbk (DILD) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2019. Dalam acara tersebut, pemegang saham telah memberikan pesetujuan seluruh agenda RUPS Tahunan yang diselenggarakan Perseroan di Jakarta Intiland Tower Jakarta, Rabu (15/7/2020).
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan, pada RUPST kali ini ada enam agenda untuk mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Keenam agenda tersebut meliputi Persetujuan Laporan Tahunan dan Pengesahan Neraca dan Perhitungan Rugi Laba untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2019, penunjukan Kantor Akuntan Publik, dan penetapan remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi.
“Selain agenda tersebut, pemegang saham juga telah menyetujui perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris serta penetapan penggunaan laba bersih sebesar Rp251,4 miliar. Untuk itu, kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemegang saham yang telah memberikan persetujuan seluruh agenda RUPST yang diusulkan oleh manajemen,” kata Archied dalam paparan pubik virtual, Rabu (15/7/2020).
Dalam agenda perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris, kata Archied, Wakil Direktur Utama Perseroan Sinarto Dharmawan menduduki posisi baru sebagai Komisaris Utama. Selain itu, keanggotaan Dewan Komisaris juga diperkuat dengan penunjukan Friso Palilingan selaku Komisaris Independen.
Friso Palilingan sebelumnya menjabat sebagai anggota Komite Audit Perseroan sejak tahun 2013. Dia memiliki pengalaman panjang di bidang keuangan dan akuntansi. Peraih gelar master di bidang akuntansi dari Kwik Kian Gie School of Business ini menjabat sebagai Rekan di PKF Indonesia dan anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan di Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
Lebih lanjut dia menegaskan, mempertimbangkan situasi dan kondisi akibat pandemi Covid-19 serta rencana usaha tahun ini, DILD memutuskan untuk belum membagikan dividen atas laba yang diperoleh tahun 2019 lalu.
“Sehingga seluruh laba bersih yang diperoleh perseroan akan digunakan sebagai laba ditahan sebesar Rp249,4miliar dan sisanya sebesar Rp2 miliar sebagai cadangan wajib,” jelas dia.
Archied mengakui, industri properti menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Banyak konsumen dan investor properti cenderung bersikap menunggu kondisi membaik dan memilih untuk menunda dulu pembelian.
“Hampir semua developer menghadapi tantangan yang cukup berat, termasuk dampak dari pandemi Covid-19. Meskipun daya beli pasar tetap ada, konsumen memilih untuk menunda pembelian atau investasi. Penjualan properti masih didominasi pasar end user, terutama di segmen menengah ke bawah,” pungkas Archied.
Foto: Istimewa
